Memahami (mu)

Kejadian demi kejadian, asa dan harapan, keinginan dan kemauan, semua ada dalam diri manusia. Begitu juga dengan saya. Sesuatu yang hilang, bisa jadi akan muncul sesuatu yang lebih lagi dari yang hilang itu. Sesuatu yang hilang, bisa jadi tidak akan datang lagi. Sebagai manusia, saya harus merenungi proses yang terjadi dalam hidup ini. Karena  dengan merenunginya kita akan tahu hakikat hidup kita di dunia. Dan yang tidak bisadiraih, tidak perlu dipaksakan untuk kesinggahannya.

 

Untuk memahami proses yang terjadi dalam kehidupan ini, saya butuh waktu. Rasa kehilangan itu memang membutuhkan keberanian dalam diri untuk berkata, “Ya, aku baik-baik saja.” Padahal kenyataan tidak semudah sebaris kalimat  tersebut. Karena ada perasaan yang terpaut dan tidak mudah untuk mengubah hanya sekedipan mata. Beri saya waktu, untuk memahami tentang hati, perasaan, sensitifitas yang ada pada diri saya.

 

Tetapi dengan bergantinya hari, tanpa disadari banyak yang telah tersia-siakan, jika saya hanya tersibukkan dengan melankolia masa lalu, kelemahan, dan kehendak diri yang belum tercapai. Setiap orang punya kehidupan tersendiri. Setiap orang punya cerita tersendiri. Dan sesungguhnya pada takdir yang terjadi itu, adalah penempaan diri dan ada hikmah di balik setiap peristiwa. Dan keberagaman setiap kehidupan manusia semua memilki keberakhiran yang sama, ketiadaan hidup kita dan terputusnya amal.

 

Waktu tak bisa diulang, relakan saja yang telah terlewati karena kita tak ingin berakhir dalam kesia-siaan. Dan terkadang dengan bergulirnya waktu makin menumbuhkan kematangan jiwa pada diri seseorang.

Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Mungkin hikmah itu dapat diketahui saat itu juga, bahkan sampai ajal pun belum diketahui. Tetapkan saja hati ini bahwa ada hikmah kebaikan dalam setiap peristiwa. Kalaupun hikmahnya tidak dapat dirasakan hari ini, pahala iman siapa tahu bisa didapatkan, Insya Allah.

 

Perlu kita pahami bahwa kehidupan  kita tidak akan luput dari ujian, cobaan dan fitnah. Dan perlu kita ketahui bahwa bukan kemudahan hidup di dunia yang menjadi tujuan kita.

 

***

 

Palembang, catatan di hari Jum’at 6Juli2012.

Pos ini dipublikasikan di Renungan Diri dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s