Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bkar

Ayahanda beliau adalah Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ibunya adalah putri Yazdajir, raja Persia yang terakhir. Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, Ummul Mukminin. Di samping itu, di atas kepalanya telah bertengger mahkota takwa dan ilmu. Adakah Anda masih mengira ada kemenangan yang lebih tinggi dari kemenangan yang semua orang bersaing dan berlomba mendapatkannya ini?

Dialah Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar satu dari tujuh fuqaha Madinah, yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya dan paling bagus sifat wara’nya. Marilah kita buka lembaran hidupnya dari awal.

***

Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak ini, badai fitnah semakin dahsyat menerpa kaum muslimin. Hingga mengakibatkan terbunuhnya khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Dzun Nurain Utsman Bin Affan sebagai syuhada, sedangkan Al-Qur’an berada dalam dekapannya.

Tak lama setelah itu muncul sengketa besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb, gubernur untuk wilayah Syam. Dalam rangkaian keadaan genting dan peristiwa-peristiwa yang mencekam itu, anak tersebut mendapati dirinya bersama adik perempuannya dibawa dari Madinah ke Mesir, menyusul kedua orang tuanya. Ayahnya diangkat menjadi gubernur Mesir oleh khilafah Ali bin Abi Thalib.

Di kota ini dia harus menyaksikkan cakar-cakar fitnah mencengkeram makin jauh sampai akhirnya ayah beliau tewas dengan cara yang keji. Selanjutnya beliau pindah lagi dari Mesir kembali ke Madinah setelah kekuasaan dipegang oleh Muawiyah radhiallahu ‘anhu. Kini dia yatim piatu. Al-Qasim bercerita tentang perjalanan hidupnya yang sarat dengan penderitaan itu:

“Setelah terbunuhnya ayah di Mesir, pamanku Abdurrahman datang untuk membawa aku dan adik perempuanku ke Madinah. Setibanya di kota ini, bibiku, Ummul Mukminin, mengutus seseorang mengambil kami berdua untuk dibawa ke rumahnya dan dipelihara di bawah pengawasannya.

Ternyata belum pernah aku menjumpai seorang ibu dan ayah yang lebih baik dan lebih besar kasih sayangnya dari pada beliau. Beliau menyuapi kami dengan tangannya, sedang beliau tidak makan bersama kami. Bila tersisa makanan kami barulah beliau memakannya. Beliau mengasihi kami seperti seorang ibu yang menyusui bayinya. Beliau yang memandikan kami, menyisir rambut kami, memberi pakaian-pakaian yang putih bersih. Beliau senantiasa mendorong kami untuk berbuat baik dan melatih kami untuk itu dengan teladannya.

Beliau melarang kami melakukan perbuatan jahat dan menyuruh kami meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar kami membaca Kitabullah dan meriwayatkan hadits-hadits yang bisa kami pahami. Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk kami. Di setiap senja di hari Arafah, beliau memotong rambutku, memandikan aku dan adik perempuanku. Pagi harinya kami diberi baju baru kemudian aku disuruh ke masjid untuk shalat ‘Ied. Setelah selesai, aku dikumpulkan bersama adikku kemudian kami makan daging udhhiyah.

Suatu hari beliau memakaikan baju berwarna putih untuk kami. Kemudian aku didudukkan di pangkuannya yang satu dengan sedang adikku di pangkuan yang lain. Paman Abdurrahman datang atas undangannya. Lalu bibi ‘Aisyah mulai berbicara, beliau mulai dengan pujian kepada Allah, sungguh aku belum pernah mendengar sebelum dan sesudahnhya seorang pun baik laki-laki ataupun perempuan yang lebih fasih lisannya dan lebih bagus tutur katanya dari beliau. Beliau berkata kepada paman:

“Wahai saudaraku, aku melihat sepertinya Anda menjauh dari saya sejak saya mengambil dan merawat kedua anak ini. Demi Allah saya melakukannya bukan karena lancang kepada Anda, bukan karena saya menaruh buruk sangka kepada Anda dan bukan pula lantaran saya tidak percaya bahwa Anda dapat memenuhi hak keduanya.Hanya saja Anda memiliki istri lebih dari satu, sedangkan ketika itu kedua anak kecil ini belum bisa mengurus dirinya sendiri. Maka saya khawatir jika keduanya dalam keadaan yang tidak disukai dan tidak sedap dalam pandangan-pandangan istri-istrimu.Sehingga saya merasa lebih berhak untuk memenuhi hak keduanya ketika itu. Namun sekarang keduanya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka bawalah mereka dan aku serahkan tanggung jawabnya kepada Anda.” Begitulah, akhirnya pamanku Abdurrahman memboyong kami ke rumahnya.

***

Hanya saja, hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, ‘Aisyah. Rindu terhadap lantai rumah yang bercampur dengan kesejukan nubuwat. Dia berkembang dan terpelihara oleh perawatan pemilik rumah itu, dia kenyang dalam kasih sayangnya. Oleh sebab itu dia mebagi waktunya antara rumah bibi dan rumah pamannya.

Simaklah kesan-kesan yang melekat di hatinya:

“Suatu hari aku berkata kepada bibiku ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu: “Wahai ibu, tunjukkan kepadaku kubur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kedua shahabatnya, aku ingin sekali melihatnya.”

Tiga kubur itu berada didalam rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan untuk kami tiga buah makam yang tidak digundukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid. Saya bertanya: “Yang mana makam Rasulullah.” Beliau menunjuk salah satu darinya: “Ini.” Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera disekanya agar aku tak melihatnya. Makam Nabi itu agak lebih maju dari makam kedua shahabatnya.

Saya bertanya lagi: “Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?” Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata: “Yang ini.” Kulihat makam kakekku sejajar dengan letak ahuh Rasulullah. Aku berkata: “Yang ini makam Umar?” Beliau menjawab: “Benar.”

Aku melihat letak kepala Umar sejajar dengan jari-jari kakekku, dekat dengan arah kaki Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

***

Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal Kitabullah dan menimba hadits-hadits dari bibinya, ‘Aisyah sebanyak yang dikehendaki Allah. Dia tekun mendatangi Al-Haram Nabawi dan duduk dalam halaqah-halaqah ilmu yang terhampar di sudut-sudut masjid laksana bintang-bintang yang bertaburan di langit yang yang terang.

Beliau menghadiri majlisnya Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Khabbab, Rafi’ bin Khudaij, Aslam pembantu Umar bin Khaththab, dan sebagainya. Hingga pada gilirannya beliau menjadi mutjahid dan menjelma menjadi manusia yang palin pandai dalam hal sunnah pada zamannya, dimana ketika itu seseorang belumlah dianggap sebagai tokoh sebelum dia mendalami sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Al-Qasim bin Muhammad dan putra bibinya, Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Keduanya menjadi tokoh yang ditaati dan didengar tutur katanya kendati keduanya tidak memiliki wilayah jabatan atau kekuasaan.

***

Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayah dan para bawahannya hormat padanya. Penguasa-penguasa tersebut bahkan tidak pernah memutuskan suatu masalah kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua ulama tersebut.

Ketika Al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan untuk memperluas Al-Haram Nabawi yang mulia. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tenpa membongkar masjid yang lama pada keempat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk perluasan.

Persoalan ini rentan dengan perpecahan antara kaum muslimin dan menyakiti perasaan mereka. Mengingat hal ini, maka khaifah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, wali Madinah, yang isinya sebagai berikut:

“Saya memandang perlunya memperluas masjid Nabawi Asy-Syarif sampai 200 hasta persegi. Untuk kebutuhan ini, keempat dindingnya perlu dirobohkan dan rumah istri-istri Nabi terpaksa kena perluasan. Selain itu rumah-rumah yang ada di sekitarnya perlu dibeli dan kiblatnya dimajukan kalau bisa. Anda mampu mewujudkann hal itu, mengingat kedudukan Anda di antara paman-paman Anda keturunan Ibnul Khaththab dan besarnya pengaruh mereka di masyarakat.

Jika penduduk Madinah menolak, Anda bisa minta bantuan pada Al-Qasim dan Salim bin Abdullah. Sertakan keduanya dalam rencana pemugaran dan perluasan itu. Jangan lupa, bayarlah ganti rugi rumah-rumah rakyat dengan harga setinggi mungkin. Bagi Anda pahala yang baik seperti yang dilakukan Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan.”

Dengan segera, gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz mengundang Al-Qasim bin Muhammad dan Salim Bin Abdullah dan para pemuka kaum muslimin Madinah. Kepada mereka dibacakan surat perintah khalifah yang baru saja diteima. Ternyata mereka gembira dengan apa yuang direncanakan oleh Amirul Mukminin dan siap sedia untukmendukung rencana tersebut.

Di tempat lain, pasukan muslimin terus mendapatkan kemenangan gemilang. Mereka berhasil menjatuhkan benteng-benteng musuh di Konstantinopel dan merebut kota demi kota di bawah pimpinan komandan yang tangkas dan pemberani, Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan. Ini adalah awal terbukanya Konstantinopel.

Kaisar Romawi mendengar rencana pemugaran dan perluasan masjid Nabawi, maka dia ingin menyenangkan dan mengambil hati Amirul Mukminin. Dikirimnya 100 kg emas murni disertai 100 arsitek dari Romawi dan membawa ubin-ubin marmer yang indah. Bantuan tersebut dikirimkan oleh Al-Walid kepada Umar bin Abdul Aziz. Wali Madinah ini baru mau memanfaatkannya setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan Al-Qasim bin Muhammad.

***

Alangkah miripnya Al-Qasim bin Muhammad dengan kakeknya, Abu Bakar Ash-Shidiq radhiallahu ‘anhu, sampai orang-orang berkomentar : “Tidak ada anak keturunan Abu Bakar yang lebih mirip dengan beliau dari Al-Qasim. Dia begitu serupa akhlak, bentuk fisik, keteguhan iman maupun kezuhudannya… “ Dan banyak sekali sikap dan perbuatannya yang membuktikan hal ini.

Sebagai contoh, ketika ada seorang dusun datang ke masjid lalu bertanya kepada beliau: “Siapakah yang lebih pandai, Anda ataukah Salim bin Abdullah?” Al-Qasim berpura-pura sibuk sehingga si penanya mengulangi pertanyaannya. Beliau menjawab: “Subhanallah.”

Pertanyaan itu diulang untuk ketiga kalinya, lalu Al-Qasim berkata: “Itu dia, Salim putra bibiku duduk di sebelah sana.” Orang-orang di majelis itu saling berbisik: “Sungguh mirip dia dengan kakeknya. Dia tidak suka dan sangat benci untuk berkata: “Aku lebih pandai.” Karena hal itu berarti menyombongkan diri. Namun dia tidak pula berkata: “Dia lebih pandai,”Sebab itu berarti dusta, mengingat sebenarnya dia lebih pandai daripada Salim.

Suatu ketika, di Mina terlihat para jama’ah haji ke Baitullah berdatangan dari segala penjuru negeri dan mereka bertanya tentang agama kepada Al-Qasim. Beliau menjawab sebatas apa yang beliau ketahui. Kepada mereka beliau yang menanyakan masalah yang dia tidak mengetahuinya, tanpa rasa malu beliau berkata: “Aku tidak tahu… aku tidak mengerti…aku tidak tahu.” Nampaknya orang-orang heran dan penasaran dengan jawaban tersebut, maka beliau menegaskan kepada mereka: “Aku tidak tahu apa yang kalian tanyakan itu. Sungguh seseorang hidup dalam keadaan bodoh (selain berma’rifah kepada hak-hak Allah) adalah lebih baik daripada seseorang mengatakan apa yang tidak dia ketahui ilmunya.”

Pernah pula ketika beliau ditugaskan untuk membagi harta sedekah kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Maka beliau melaksanakannya sebaik mungkin dan memberikan bagian kepada yang benar-benar berhak atasnya.

Namun ada satu orang tidak puas dengan bagiannya dan mendatanginya di masjid. Beliau tengah melakukan shalat ketika orang itu datang dan bicara soal harta sedekah. Putra Al-Qasim yang mendengarnya dengan dongkol berkata: “Demi Allah engkau telah melemparkan tuduhan terhadap orang yang tidak sepeserpun mengambil badian dari harta sedekah itu dan tidak makan walau sebutir kurma.”

Setelah menyelesaikan shalatnya, Al-Qasim menoleh kepada putranya seraya berkata: “Wahai putraku, mulai hari ini janganlah engkau berbicara tentang masalah yang tidak engkau ketahui.”

Orang-orang berkata: “Apa yang dikatakan anaknya memang benar, namun beliau ingin mendidik putranya agar menjaga lidah dalam mencampuri urusan orang lain. Al-Qasim bin Muhammad hidup sampai usia 72 tahun, menjadi buta di hari tuanya. Dalam usianya yang lanjut, beliau menuju Makkah untuk naik haji, dalam perjalanan inilah beliau wafat.

Ketika beliau merasa ajalnya telah dekat, beliau berpesan kepada putranya :”Bila aku mati, kafanilah aku dengan pakaian yang aku pakai untuk shalat. Gamisku, kainku, dan surbanku. Seperti itulah kafan kakekmu, Abu Bakar Ash-Shidiq. Kemudian ratakanlah makamku dan segera kembalilah kepada keluargamu. Jangan engkau berdiri di atas kuburanku seraya berkata :”Dia dulu begini dan begitu… karena aku bukanlah apa-apa.”

***

Dari buku terjemah “Shuwaru min Hayati at-Tabi’in” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya (Mereka adalah Tabi’in, hlm 261-268), cetakan ix: Juli 2010 M/Rajab 1431 H, Penerbit At-Tibyan

Pos ini dipublikasikan di Kisah Teladan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s