Wanita Yang Menasihati Seorang Ulama

Imam Malik meriwayatkan dalam kitab Al-Muwaththa’, dari Yahya bin Sa’id al-Qasim: “Dahulu di kalangan Bani Israil, ada seorang ulama yang ahli ibadah. Dan ia mempunyai seorang istri yang sangat ia kagumi dan cintai. Tiba-tiba sang istri meninggal dan ia benar-benar kehilangan yang luar biasa. Ia larut dalam kesedihan yang dalam. Hingga ia mengunci dan menyendiri di dalam rumahnya. Ia menutup dirinya dari orang-orang.

Seorang wanita lain mendengar tentang apa yang terjadi padanya. Lalu wanita ini mengatakan: “Aku mempunyai sebuah keperluan untuk menemuinya. Aku akan meminta fatwa padanya. Dan aku harus berbicara langsung dengannya… “
Ketika akhirnya orang-orang pergi ke rumahnya masing-masing, wanita itu tetap menunggu di depan rumah sang ulama itu. Namun ia tidak menemukan jalan untuk masuk menemuinya. Hingga akhirnya seseorang mengatakan, “Wahai Tuan, di sini ada seorang wanita yang ingin bertanya dan meminta fatwa kepada Anda… “
“Biarkanlah ia masuk.” Jawab sang ulama.

Maka wanita itupun masuk. Lalu kepada ulama itu ia mengatakan: “Tuan, aku pernah meminjam dari tetanggaku sebuah perhiasan. Lalu aku mengenakan perhiasan itu, dan ia berada padaku selama beberapa waktu lamanya. Lalu wanita itu kemudian mengirim utusan padaku untuk meminta perhiasan itu kembali. Apakah aku harus mengembalikannya kepada mereka?”

“Demi Tuhan,tentu saja engkau harus mengembalikannya.” Jawab sang ulama.
“Tapi perhiasan itu telah tinggal padaku sekian lama… “ ujar wanita itu.
“Tentu saja, perhiasan itu sudah sepatutnya untuk engkau kembalikan kepada mereka,” balas sang ulama.

Wanita itu terdiam sejenak. Lalu ia berkata: “Tuan, lalu mengapa Anda terlalu larut dalam kesedihan ini? Bukankah Allah yang telah meminjamkan sang istri itu kepadamu, lalu Dia memintanya kembali darimu. Bukankah itu jauh lebih berhak untuk dikembalikan?”

Sang ulama itu tertegun. Ia akhirnya tersadar. Nasihat itu memberikan pelajaran dan manfaat luar biasa baginya.
***
Dinukil dari buku terjemah “Surga Untuk Putriku” yang ditulis oleh ‘Abd al-Rahman al-Sanjary dan Najib bin Khalid al-‘Amir (hlm.131-133), cetakan pertama Juni 2011 M, Sukses Publishing.

Pos ini dipublikasikan di muslimah dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s