10 Faedah Tentang Pakaian

Penisbahan Pakaian Orang Sholih

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Komitmen dengan model pakaian tertentu -baik model pakaian tersebut secara syariat hukumnya mubah ataupun makruh- di mana memakai pakaian model tersebut dianggap sebagai bagian dari agama, sesuatu yang dianjurkan, atau yang dijadikan sebagai simbol orang shalih maka termasuk bid’ah.” (al-Istiqomah jilid 1 hlm 260), tahqiq Dr. Muhammad Rosyad Salim, terbitan Universitas Imam Ibnu Su’ud, Riyadh, Arab Saudi, cetakan pertama,1403 H).

Memakai Peci Sendirian

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Di antara orang-orang sufi ada yang meletakkan potongan-potongan kain di atas kepalanya sebagai pengganti serban (yang sudah lazim di daerahnya). Ini adalah pakaian syuhroh karena menyelisihi model berpakaian yang sudah lazim di daerahnya. Semua yang menyebabkan orang yang mengenakannya menjadi bahan pembicaraan banyak orang hukumnya makruh.”

Setelah itu, Ibnul Jauzi membawakan riwayat dengan sanadnya dari Bisyr bin al-Harits, “Sesungguhnya Abdulloh bin Mubarok pada hari  Jum’at dalam keadaan memakai peci. Ternyata di masjid tidak satupun mengenakan peci. Akhirnya, beliau lepas peci yang beliau kenakan dan beliau sembunyikan di lengan bajunya.” (Talbis Iblis karya Ibnul Jauzi hlm. 237 terbitan Darul Aqidah, Mesir, cetakan pertama, 1420H )

Pakaian Ahlus Sunnah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Para kekasih Allah itu tidaklah memiliki ciri khas dalam penampilan lahiriyah yang membedakan mereka dari kebanyakan anggota masyarakat, selama hal tersebut masih dalam ruang lingkup hukum mubah. Mereka tidaklah memilki ciri berupa model pakaian tertentu, selama model pakaian tersebut hukumnya mubah dalam timbangan syari’at. Mereka juga tidak  memilki ciri khas berupa berkepala gundul atau potongan rambut yang pendek ataupun kondisi kuku tertentu, selama itu semua hukumnya mubah dalam timbangan syariat.” (al-Furqon Auliya ar-Rohman wa Auliya asy Syaithon hlm. 65-66, tahqiq Salim bin ‘Id al-Hilali, terbitan Maktabah ar-Rusyd, Arab Saudi,cetakan kedua, 1424 H)

Hukum Memakai Dasi Dan Jas

Pertanyaan:

“Apa hukum memakai celana pantalon jika modelnya ketat sehingga melekat di badan atau modelnya longgar? Bagaimana jika celana pantalon tersebut meniru pakaian orang-orang Barat dan bagaimana celana model pantalon tersebut modelnya berbeda dengan celana panjang buatan Barat? Apa hukum memakai jas? Apa hukum memakai dasi dan pakaian orang-orang kafir lainnya? Apa hukum memakai model-model pakaian di atas berubah ketika model pakaian di atas sudah menjadi kebiasaan kaum muslimin tidak menilai adanya unsur menyerupai orang kafir alam pakaian-pakaian atas? Yang terakhir, apa saja model pakaian yang bisa dikenakan seorang muslim di zaman ini? Apa hukumnya memakai model-model pakaian di atas?”

Jawaban Lajnah Da’imah:

“Hukum asal pakaian adalah dibolehkan, selain jenis pakaian yang dikecualikan oleh syariat secara mutlak, semisal emas dan sutra untuk laki-laki kecuali pakaian sutra yang dipakai seorang laki-laki karena terkena penyakit kudis atau semisalnya.

Celana pantalon bukanlah pakaian khas orang kafir. Akan tetapi, memakai pantalon yang ketat sehingga menggambarkan lekuk anggota badan bahkan bentuk kemaluan itu tidak diperbolehkan. Sedangkan memakai celana pantaloon yang longgar itu diperbolehkan, kecuali jika pemakai celana pantalon tersebut berniat untuk menyerupai orang-orang kafir yang memakainya.

Demikian pula hukum memakai jas dan dasi. Mangingat bahwa jenis pakaian tersebut bukan pakaian khas orang kafir, hukum memakainya diperbolehkan kecuali jika orang yang memakainya berniat menyerupai orang kafir.

Ringkasnya, hukum asal pakaian adalah diperbolehkan, kecuali jenis pakaian yang dalil syariat melarangnya sebagaimana penjelasan di atas.”

Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua Lajnah Da’imah dan Abdurrozzaq Afifi selaku wakit ketua serta Abdulloh bin Ghodayan dan Abdulloh bin masing-masing sebagai anggota. (Fatawa Lajnah Da’imah (jilid 24 hal. 40-41))

Tolok Ukur Tasyabuh Dengan Orang Kafir Dalam Masalah Pakaian

Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin rahimahullah pernah mendapatkan pertanyaan, “Apa yang menjadi tolok ukur dalam permasalahan menyerupai orang kafir?”

Jawaban beliau, “Menyerupai orang kafir bisa terjadi pada penampilan, pakaian, cara makan, dan sebagainya karena tasyabuh (menyerupai) adalah kata yang maknanya luas. Yang dimaksud menyerupai orang kafir adalah melakukan hal yang menjadi ciri khas orang kafir sehingga siapa saja yang melihatnya akan mengira bahwa orang yang dilihat adalah orang kafir. Inilah parameternya.

Adapun sesuatu yang telah tersebar luas di tengah-tengah orang muslim dan orang kafir maka melakukannya itu diperbolehkan meksipun pada asal budayanya tersebut berasal dari orang kafir, tentu dengan syarat hal tersebut tidak terlarang khusus dalam syariat, semisalnya pakaian sutra.”
(Majmu’ Durus wa Fatawa al-Harom hlm. 601, terbitan Dar Ibn al-Haitsam, Kairo, Mesir).

Dalam Fathil Bari (1/307), Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Andai kita katakan bahwa larangan memakai al-mayatsir al-Urjuwan (sejenis pakaian) adalah karena  menyerupai pakaian orang Ajam (non Arab yang kafir) maka berarti larangan tersebut karena faktor agama.  Akan tetapi pakaian tersebut merupakan simbol mereka ketika mereka adalah orang-orang kafir. Kemudian tatkala sekarang hal tersebut tidak lagi menjadi simbol orang kafir, alasan untuk melarang memakai pakaian tersebut sudah tidak ada lagi, sehingga hukum makruh untuk itu sudah tidak ada lagi.” (Fatawa al-Aqidah hlm. 245, lihat Fatawa Ulama’ al-Balad al-Haram hlm. 602, terbitan Dar Ibn al-Haitsam, Kairo, Mesir)

Sarung Balapan

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah mengatakan, “Di antara penyimpangan yang dilakukan oleh para pemuda shohwah islamiyyah (kebangkitan Islam) dalam masalah pakaian adalah adanya orang yang berpakaian dengan sengaja membuat pakaiannya balapan(yang satu lebih panjang daripada yang lain) yaitu dengan memakai celana panjang dan jubah, lalu ujung jubah dibuat sedikit lebih tinggi daripada ujung celana panjang. Menganggap sunnah hal semacam ini tidak ada dalilnya dalam syariat dan tidak ada keterangan ulama yang membenarkannya.” ( Hadd al-Tsaub wal Uzroh (hlm. 26), terbitan Maktabah as-Sunnah, Kairo, Mesir, cetakan pertama, 1421 H)

Semisal dengan apa yang beliau sampaikan adalah kebiasaan sebagian orang di negeri kita yang memakai celana panjang dan sarung, lalu dengan sengaja menjadikan ujung sarung berada sedikit lebih tinngi daripada celana panjang.

Jilbab Putih

Pertanyaan, “Bolehkah seorang wanita memakai pakaian ketat? Bolehkah seorang wanita memakai pakaian yang ketat? Bolehkah wanita memakai pakaian berwarna putih?

Jawaban Lajnah Da’imah:

Tidaklah diperbolehkan bagi seorang wanita ketika terlihat oleh laki-laki bukan mahromnya atau ketika pergi ke pasar atau berada di jalanan umum, memakai pakaian ketat yang  menampakkan lekuk tubuhnya sehingga semua orang yang melihatnya mengetahui dengan jelas lekuk tubuhnya. Pakaian tersebut membuat seorang wanita yang memakainya tak ubahnya wanita telanjang. Pakaian tersebut akan membangkitkan nafsu sehingga menjadi sebab timbulnya bahaya yang mengkhawatirkan.

Tidak boleh bagi seorang muslimah memakai pakaian berwarna putih jika di daerahnya warna putih adalah ciri khas laki-laki. Ketika itu, wanita yang memakai pakaian berwarna putih berarti menyerupai laki-laki, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat wanita yang menyerupai laki-laki.”

Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh Abdul Azziz bin Baz selaku ketua Lajnah Da’imah, Abdurrazaq Afifi selaku wakil ketua, dan Abdulloh bin Ghodayan, serta Abdulloh bin Qo’ud selaku anggota. Teks fatwa di atas bisa dibaca di Fatawa Lajnah Da’imah jilid 17 hlm.94-95.

Hukum Memakai Serban

Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Hukum syar’i maksimal yang bisa diberikan kepada serban adalah dianjurkan untuk memakainya. Pendapat yang kuat, memakai serban adalah bagian dari sunnah ‘adah (dianjurkan jika memang umumnya masyarakat membiasakan diri untuk memakainya), bukan sunnah ibadah (yang dianjurkan dalam semua kondisi).” (Sisilah Dho’ifah jilid pertama, hlm. 253 ketika membahas hadits no. 129, terbitan Maktabah al-Maarif, Riyadh, Arab Saudi, cetakan kedua tahun 1420).

Pertanyaan, “Sebagian teman ngaji yang menyalahkan orang yang mengerjakan sholat tanpa memakai serban. Apa dalil yang melarang sholat tanpa berserban? Apakah ada anjuran  untuk memakai serban atau tidak?”

Jawaban Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah, “Serban adalah budaya orang Arab yang dibiarkan oleh Islam. Tidaklah benar anggapan bahwa hukum memakai serban itu dianjurkan. Memakai serban  adalah sekedar kebiasaan orang Arab.

Akan tetapi, jika Anda memakai serban dengan niatan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka Anda akan mendapatkan pahala karena niat hendak meneladani Rasulullah (bukan semata-mata memakai serban).

Shalat tanpa memakai serban adalah shalat yang sah. Tidak sepatutnya  kita menyalahkan seseorang yang mengerjakan shalat tanpa memakai serban. Kita tidak boleh menyalahkan seseorang tanpa dalil dari al-Qur’an atau sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kami nasehatkan agar mengenakan ketika shalat dan di luar shalat. Akan tetapi, andai ada orang yang shalat tanpa satu pun penutup kepala, kami tidak akan menyalahkan dan kami juga tidak mengatakan shalatnya tidak sah.” (Tuhfath al-Mujib ‘Ala As’ilah al-Hadhir wal Ghorib hlm. 143, pertanyaan ke-16 dari pertanyaan ikhwah dari Amerika, terbitan Dar al-Haromain, Kairo, Mesir, cetakan pertama, 1424 H)

Hukum Memakai Jubah

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Perbuatan Nabi yang dikarenakan faktor budaya masyarakat saat itu, huku mengikuti dan mengerjakannya adalah dianjurkan, tetapi bukan dari aspek model perbuatan melainkan jenis perbuatannya. Contohnya adalah di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masyarakat terbiasa mengenakan izar, rida’, dan serban(sering-seringnya). Tentang hal ini, kami katakana bahwa orang yang hidup di masa itu hendaknya mengenakan pakaian seperti itu. Ini merupakan yang paling utama dan yang paling baik supaya tidak ‘nyeleneh’ di tengah masyarakat sekelilingnya. Alasan yang lain adalah agar pakaian yang dikenakan tidak menyebabkan popularitas. Akan tetapi, jika kita ingin menerapkan hal tersebut di masa sekarang ini, kita datang ke masjid dengan mengenakan izar, rida’ dan serban, maka tentu akan kami katakan ini adalah pakaian yang menyebabkan popularitas dan tidak dianjurkan. Bahkan yang dianjurkan adalah kita mengenakan model pakaian yang biasa dipakai di tengah-tengah masyarakat kita. Oleh karena itu, para sahabat tatkala menaklukkan berbagai negeri, mereka mengenakan pakaian sebagaimana pakaian masyarakat setempat. Hal tersebut bertujuan supaya tidak tampil beda dan menjadi bahan gunjingan banyak orang. Jika kita memakai pakaian yang tampil beda maka masyarakat akan mengatakan si A itu  dan demikian atau bahkan jadi bahan guyonan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang umatnya untuk mengenakan pakaian yang menyebabkan popularitas.” (lihat HR. Ahmad no. 5631, Abu Dawud no. 4029, dan lain-lain. Hadits ini dihasankan oleh Imam al-Mundziri dan al-Ajluni).

…Jadi, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan karena mengikuti tradisi masyarakat setempat itu dianjurkan jenis perbuatannya dan bukan modelnya.” (Syarh Nadzam al-Waroqot karya Syaikh Utsaimin hlm. 149-150, terbitan Dar Ibnul Jauzi, Arab Saudi, cetakan pertama, 1425 H)

Murtad Gara-Gara Pakaian

Ar-Rofi’i menukil dari para ulama yang bermadzhab Hanafi, mereka berpendapat bahwa siapa saja yang memakai zinar(ikat pinggang khas orang nasrani) di pinggangnya maka dia kafir.

Ar-Rofi’i mengatakan bahwa para ulama bermadzhab Hanafi berselisih pendapat mengenai orang yang memakai tutup kepala khas Majusi di kepalanya. Yang benar menurut mereka, bahwa orang tersebut kafir. Andai ada orang yang mengikatkan tali di pinggangnya lantas ketika ditanya tentang apa itu, dia mengatakan , “Ini adalah zinar.” Mayoritas Hanafiyyah mengatakan bahwa orang tersebut kafir. Setelah membawakan kutipan di atas Ar-Rofi’i tidak memberikan komentar.

Adapun an-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang benar,orang  yang memakai pakaian khas orang kafir itu tidak kafir jika dia itu tidak memilik niat. Apa yang dikatakan oleh an-Nawawi itu disebutkan oleh Ar-Rofi’i di awal Bab Jinayat pada poin bahasan keempat. Intinya, ar-Rofi’i setuju denganan-Nawawi bahwa semata-mata memakai pakaian khas orang kafir bukanlah kemurtadan. (Kifayah alAkhyar Fi Halali Ghoyah al-Ikhtisar karya Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hishny (juz 2 hlm. 162), terbitan Darul Fikr, Beirut, Lebanon, 1414 H)

Jadi, orang yang memakai zinar alias kain tertentu yang dijadikan sebagai ikat pinggang khas Nasrani itu diperselisihkan kekafirannya. Semisal dengan itu, memakai kain kuning yang menjadi ikat pinggang orang hindu ketika hendak masuk ke dalam pura.

***

Penulis : ustadz Aris Munandar hafidzahullah dari Majalah Al-Furqan (hlm.26-28), Edisi 06 TH. Ke-10 Muharram 1432H/2010 M.

Pos ini dipublikasikan di Tanya Jawab dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s