Tidak Semangat Belajar Agama?

Pertanyaan:

Sudah 3 tahun ini, saya kurang semangat dalam mempelajari Islam. Baca buku-buku pun tidak bernafsu. Mohon nasihat dan masukannya. Jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Kami prihatin dengan apa yang melanda Anda, sebuah penyakit yang tidak bisa dipandang ringan. Selama itu berarti Anda telah kehilangan banyak kebaikan. Karena, Islam adalah sumber kebaikan yang hakiki.

Kurang semangat dalam mempelajari Islam, sangat berkait dengan tingkat keimanan seseorang. Apabila keimanannya sedang berada di level atas, maka kebaikan-kebaikan dengan berbagai ragamnya akan mudah dikerjakan dengan izin Allah. Sebaliknya, tatkala sedang mengalami kelemahan, maka kaki pun berat untuk mengantarkan menuju pintu-pintu kebaikan.

Perlu Anda ketahui, ada beberapa hal yang dapat menurunkan keimanan seseorang, di antaranya:

1.Al Jahalah (kebodohan)

Orang yang tidak berilmu atau dangkal ilmunya sangat mungkin terjerembab ke dalam perkara-perkara yang fatal, daripada amalan yang akan membawanya menuju keselamatana. Efek berikutnya, ia akan menyukai perbuatan zhalim, maksiat dan pelanggaran terhadap syariat.

Al-Qur’an menyimpulkan bahwa kebodohan terhadap agama menjadi sebab utama terjerumusnya seseorang ke dalam jurang maksiat dan dosa. Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu sedang kamu melihatnya?’ Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsumu, bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).” (QS. An-Naml: 54-55)

Ini berbeda dengan seorang muslim yang berilmu, ia akan selalu mengontrol diri, sehingga ia akan selalu menjaga perbuatan-perbuatan yang bisa mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

2. Ghaflah (kelalaian) dan I’radh (berpaling dari kebenaran)

Dua hal ini sangat berperan dalam mengikis keimanan seseorang. Penderitan hati atau kematiannya bisa terjadi karenanya.

Allah mencela sifat lalai dalam beberapa ayat, di antaranya: “Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lalai dari ayat-ayat kami.” (QS. Yunus:92)

Tatkala dicengkeram sifat lalai , maka ia akan hanyut pada perkara-perkara yang menjatuhkan dirinya dari mengingat Allah. Kalaupun ia mengerjakan amalan shalih, maka mengamalkannya dengan ala kadarnya.

Sementara berkaitan dengan al I’radh (berpaling dari kebenaran), pengaruhnya juga sangat buruk. Allah menyebut orang yang berpaling sebagai orang paling zhalim, tidak ada orang yang melebihi kezhalimannya. Allah berfirman, yang artinya : ”Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah:22)

3. Perbuatan maksiat dan dosa

Hal ini sangat jelas dampak buruknya terhadap keimanan seseorang. Sebagian ulama salaf mengatakan : “Iman meningkat dengan perbuatan ketaatan, dan berkurang dengan perbuatan maksiat

Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya, “Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang yang di dalam hati mereka ada penyakit maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya
(yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.”
(QS. At-Taubah: 124-125)

Coba Anda renungkan hal-hal di atas. Lakukan muhasabah atau instropeksi diri. Barangkali saja ada di antaranya yang sempat melanda Anda, sehingga berpengaruh sangat buruk pada diri Anda. Yang akhirnya  Anda tertimpa penyakit malas ini, akibat hati mengeras.

Selain itu, pergaulan juga memiliki pengaruh dalam mewarnai tindak-tanduk harian. Maka pilihlah teman dan komunitas yang kondusif. Agar iman selalu terjaga dalam pergaulan, Nabi mengatakan:

“Seseorang itu berada di atas kebiasaan kawan dekatnya, maka lihatlah salah seorang dari kalian, siapa yang dipergauli dengan akrab.” (Hadits hasan. Diriwayatkan Abu Dawud, 13/589; Ahmad, 2/303. Dikutip dari kitab Asbabu Ziyadati al Iman)

Al-Koththobi menjelaskan :”Maksudnya ,janganlah engkau mengakrabi orang, kecuali teman yang engkau ridhai agama dan amanahnya.”

Larangan menggauli teman-teman yang buruk lantaran manusia memiliki sifat meniru orang yang menjadi awan karibnya.

Semoga Allah menjadikan kita cinta kepada keimanan dan benci kepada kekufuran dan maksiat. Amiiin. Wallahu a’lam.

 

*** *** ***

Ditulis ulang dari Majalah As-Sunnah Edisi 01/x/1427H/2006M

 

Pos ini dipublikasikan di Tanya Jawab dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s