Menuju Kesucian Jiwa

Era globalisasi semakin menjauhkan manusia dari kesucian jiwa. Jiwa yang suci menjadi barang langka. Pencemaran batin dengan berbagai maksiat dalambentuk kekafiran, kesyirikan, dan syahwat birahi, merambah deras melalui sarana media elektronik dan media cetak. Kini, apapun yang dimaukan dan segala yang digandrungi oleh jiwa telah berada alam jangkauan. Bahkan, dunia beserta gemerlapnya ibarat dalam genggaman tangan. Semuanya dapat dinikmati melalui sebuah alat komunikasi mini bernama telepon genggam.

Iman yang semakin menipis, kebodohan yang kian menebal, diiringi dengan mudahnya segala fasilitas maksiat, semakin murah lagi canggih. Apa jadinya? Tak lain, jiwa semakin ternoda, noktah bahkan bercak hitam kian melekat dalam kolbu. Membuatnya semakin buta dari kebenaran, semakin buta akan kebaikan, hingga tak kenal yang baik dan tak mengingkari yang mungkar. Lebih parah lagi, noda-noda itu telah membalik pola berpikirnya sehingga yang baik dia anggap jelek, yang jelek dianggap baik, hal yang tabu dianggap biasa dan rasa malu nyaris sirna.

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

Apabila engkau tidak lagi punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!” (HR. al-Bukhari)

Memang, apabila benteng iman telah roboh, tak tersisa selain benteng malu. Apabila benteng malu pun ikut roboh, tak ada penghalang bagi seseorang untuk melakukan maksiat meskipun di depan orang, di siang bolong dan terang benderang. Inikah buah dari modernisasi dan globalsasi yang kebablasan? Kalau ini buahnya, lantas apa yang dibanggakan darinya? Akankah kita membanggakan dekadensi moral yang semakin hari kian terpuruk, iman yang kian menipis, serta kebodohan yang kian menutupi akal pikiran dan hati nurani? Apa artinya kecanggihan teknologi apabila tidak tersisa nilai religi?

Kemanakah jiwa-jiwa yang suci itu? Apakah itu hanya ada di masa dahulu, yang kini tinggal cerita dan kenangan? Ataukah itu hanya sebuah kebanggan yang kita banggakan dan hanya sebatas itu, tanpa kita mencotohnya? Atau menjadi kebanggaan pun tidak, karena kini kebanggaan orang-orang telah beralih kepada bintang-bintang film, atlet, dan selebritas walaupun kehidupan mereka kelam? Sungguh celaka apabila hal ini yang terjadi. Mereka telah kehilangan teladan.

Sampai kapankah ini semua akan berlangsung? Tidakkah kita segera mengakhirkan sebelum semakin jauh? Tidakkah sudah datang waktunya kita terbangun dari mimpi indah dalam buaian setan, dan tersadar dari mabuk gemerlapnya dunia? Allah telah berseru,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al Hadid: 16)

Toh dunia seisinya tak ada nilainya dibandingkan dengan kenikmatan surga yang kekal abadi. Toh, beratnya mengekang jiwa tak sebanding dengan beratnya menahan siksa neraka. Untukmu, mari menuju jiwa yang suci…

Definisi Tazkiyatun Nufus

Tazkiyatun nufus adalah rangkaian dari dua kata :tazkiyah dan nufus. Tazkiyah memilki makna suci dan berkembang. (Mu’jam Maqayis al-Lughah dan Tahdzibul Lughah)

Adapun nufus adalah bentuk jamak dari kata nafs, yang artinya jiwa. Jadi, pembahasan tazkiyatun nufus artinya pembahasan mengenai penyucian jiwa dan pengembangannya, agar semakin bersih dan suci sehingga berkembang dengan semakin tunduk kepada Rabbnya, serta berkembang dengan banyak beramal.

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga menjelaskan, “Asal makna zakah (atau tazkiyah) adalah penambahan dalam kebaikan. Dari kata ini muncul ungkapan, “Zaka az-zar’u” artinya tumbuhan itu berkembang. Demikian pula, ‘Zaka al-maalu’, artinya harta itu bertambah. Kebaikan itu tidak akan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, sebagaimana tumbuhan itu berkembang melainkan dengan dibersihkan dari semak dan gulma di sekelilingnya. Begitu pula jiwa dan amalan, tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari segala yang berlawanan dengannya. Seseorang juga tidak akan bersih dan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, karena kejelekan itu akan menodainya.

Makna Nafs dan Pentingnya Pembahasan Tazkiyatun Nufus

Apa hakikat nafs yang biasa kita terjemahkan dengan jiwa?

Tentang hal ini, para pakar Islam dari kalangan ulama fiqih dan akidah serta ulama ahli tafsir dan bahasa, telah banyak membahasnya, baik dalam literatur tafsir maupun mu’jam, yakni kamus-kamus Arab.

Ringkas kata Ibnul Qoyyim rahimahullah telah membahas masalah ini juga dalam kitabnya, al-Arwah, yang kesimpulannya bahwa mayoritas pakar Islam berpendapat bahwa nafs atau jiwa dalam hal ini maksudnya adalah ruh.

“Hakikat keduanya adalah satu. Mereka yang berpendapat demikian adalah jumhur ulama.” Ungkap Ibnul Qayyim.Meskipun demikian, dalam penggunaan kata nafs dan ruh terkadang memilki maksud yang lain. Namun, yang dimaksud dalam tazkiyatun nufus adalah ruh.

Makna ini telah didukung oleh banyak dalil, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits. Dalil-dalil tersebut menyebutkan kata nafs dengan makna ruh. Bahkan, disebut pula bahwa ruh ada yang baik (thayyibah) ada pula yang jelek (khabitsah). Dalam sebuah hadits, Nabi menceritakan proses pencabutan ruh seorang manusia oleh malaikat. Apabila manusia itu mukmin yang baik, malaikat mengatakan,

Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya.”

Lantas dibawalah nyawa tersebut oleh para malaikat ke langit, dengan bau yang sangat harum semerbak. Setiap kali kumpulan para  malaikat,mereka pun berkata,

“Ruh siapakah yang baik ini?”

Para malaikat pembawa ruh tersebut mengatakan, ”Fulan bin fulan” disebutlah namanya yang terbaik semasa hidup di dunia.

Sebaliknya, apabila manusia itu adalah seorang kafir atau menafik, para malaikat mengatakan,

Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.”

Para malaikat kemudian membawa ruh tersebut menuju langit, dengan bau yang sangat busuk. Setiap ruh ruh tersebut melewati kumpulan malaikat, mereka mengatakan,

“Ruh siapa yang jelek ini?”

Para malaikat pembawa ruh tersebut menjawab, “ Fulan bin fulan.” Dengan menyebutkan namanya yang terjelek ketika dia hidup di dunia.

Demikianlah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan adanya jiwa yang baik dan jiwa yang buruk.

Ruh-ruh itu berkelompok-kelompok yang banyak. Yang cocok di antara mereka akan saling sepakat, dan yang tidak cocok akan saling menjauh.” (Sahih, HR. Muslim)

Ulama menjelaskan, “Yang baik akan cenderung kepada yang baik dan yang jelek akan cenderung kepada yang jelek.” (Syarah Jami’ Shagir, an-Nihayah fi Gharibil Hadits, dll)

Oleh karena itulah, dalam pembukaan khutbah, dahulu Nabi sering berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa. Sabdanya,

“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon perlindungan dari kejelekan-kejelekan jiwa kami.” (Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain)

Beliau pun mengajari seseorang untuk berdoa,

Ya, Allah, lindungilah aku dari kejahatan jiwaku dan kokohkan tekadku pada urusanku yang paling lurus.”

Masih ada lagi doa-doa lain untuk minta perlindungan kepada Allah dari jiwa yang jelek.

Melihat kenyataan yang ada, tentu amat penting bagi kita untuk senantiasa mengontrol kondisi jiwa kita serta mengusahakan segala hati untuk menggapai kesucian jiwa dan membebaskan dari segala yang mengotorinya.

Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan saat mengomentari hadits bahwa ruh itu berkelompok-kelompok, “Diambil dari hadits tersebut sebuah faedah, yaitu apabila seseorang mendapatkan pada jiwanya sikap lari dari seorang yang saleh, seyogyanya ia mencari tahu sebabnya, lalu ia berusaha untuk membebaskan dirinya dari sifat tecela ini.” (dinukil dari kitab Dalil al-Falihin)

*** *** ***

Disadur ulang dari Majalah Asy Syariah vol vii/No. 79/1433H/2012 hlm. 12-14 dengan judul yang sama, penulis al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc .

Pos ini dipublikasikan di Tazkiyatun Nufus dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s