Benarkah Dakwah Salafiyah Keras?

Sudaraku, Islam itu agama yang mudah dan lapang,walaupun acapkali tidaklah mudah di dalam mendakwahkannya. Sebab, sudah merupakan sunnatullah bahwa siapa saja menyebarkan kebenaran, mendakwahkan tauhid dan sunnah, serta memberantas kesyirikan dan kebid’ahan, pasti aka ada golongan yang menentang memusuhi dan menghasutnya. Sunnatullah ini senantiasa berjalan bagi para hamba-Nya, bahkan para Nabi pun dimusuhi oleh kaumnya, tidak terkecuali Nabi dan suri tauladan kita Nabi Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau dituduh sebagai tukang sihir, penyair yang gila, pemecah-belah dan sederet julukan-julukan jelek lainnya yang dibangun di atas kebohongan dan hasad (iri hati/dengki). Para sahabat juga tidak lepas dari permusuhan orang-orang kafir dan ahli bid’ah yang sesat seperti Khawarij, Syiah dan lain sebagainyaka. Para imam seperti Imam Ahmad bin Hanbal pun sampai disiksa, dicambuk dan dihasut disebabkan karena beliau tetap mempertahankan dan mendakwahkan aqidah ahlus sunnah bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluq. Bahkan, tokoh Islam yang belum jauh zamannya dari kita, seperti Syaikh Ahmad Surkati pun tidak lepas dari permusuhan. Hal ini bisa ditanyakan epada orang-orang yang mengaku sebagai penerus beliau yang mungkin sudah membaca sejarah dan dakwah beliau yang tegas di dalamnya memberantas kesyirikan dan kebid’ahan.

Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang aneh apabila dakwah salafiyah juga dimusuhi. Karena dakwah ini adalah dakwahnya para nabi, sahabat, tabi’in dan para pengikut mereka, yang senantiasa mengajak kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan, mendakwahkan sunnah dan memberantas biid’ah serta menyeru kepada ketaatan dan amal shalih dan meninggalkan kemaksiatan. Bukankah, perkara tauhid dan menafikan syirik adalah yang paling asasi, hak Rabbul ‘Alamin yang wajib ditunaikan pertama kali oleh seorang hamba dan inti dakwahnya para Nabi dan Rasul yang harus didakwahkan walaupun dimusuhi? Bukankah para nabi seperti Nuh, Hud, Shalih dan yang lainnya semua mengatakan kepada kaumnya:

“Hai kaumku, sembahlah Allah sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.”(QS. Al-A’raf:73)

Tidakkah Anda pernah mendengarkan Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat(untuk menyerukan):’Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut.” (QS. An-Nahl:36)

Wahai saudaraku, semoga Allah merahmati Anda, bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kita sendiri selama 13 tahun, yaitu selama di Mekkah,beliau tidak henti-hentinya mendakwahkan tauhid dan memberantas kesyirikan? Bukankah ketika beliau mengutus para sahabatnya untuk berdakwah, yang beliau pesankan kepada mereka pertama kali adalah perkara tauhid? Bahkan, 5 hari menjelang wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tetap memperingatkan dari bahaya kesyirikan dan saran-sarana menuju kesyirikan.

Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di saat beliau sakit keras sampai meyebabkan beliau tidak bisa bangkit menjelang akhir hayatnya:

“Allah melaknat orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan-kuburan Nabi mereka sebagai masjid.” (HR Bukhari-Muslim)

Begitu pula perkara dakwah Sunnah dan menjauhi bid’ah, juga senantiasa didengungkan oleh Rasulullah dan dalil tentang hal ini sungguh sangat banyak,di antaranya apa yang senantiasa beliau baca dalam khutbah-padahal di masa beliau hidup belum muncul bid’ah- :

Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah al-Qur’an dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, dan setiap yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan adalah dalam neraka.” (HR. Muslim dengan tambahan riwayat dari Baihaqi serta an-Nasa’i. Lihat takhrij-nya dalam kitab Kitabatul Hajjah karya Syaikh al-Albani hlm.25)

Perkara inilah yang senantiasa diserukan oleh dakwah salafiyah, walaupun ahli bid’ah membencinya. Karenanya dakwah ini dihasut, dimusuhi dan dituduh dengan tuduhan tanpa bukti.

Oleh karena itu, kami mengajak seluruh kaum muslimin, dimanapun Anda berada agar memperhatikan dan memprioritaskan segala hal yang diperhatikan dan diprioritaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta mengindahkan apa yang beliau wasiatkan. Karena beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah memberi wasiat, apalagi di akhir hayat beliau, melainkan itu wasiat yang sangat agung. Yaitu, syirik  dari orang-orang yang jelas yang menyebabkan amalnya terhapus, dan bid’ah yang menyebabkan amalnya tidak diterima oleh Allah.

Jadi, apabila mendakwahkan hal ini namun masih banyak orang yang menentangnya dan mengatakan bahwa dakwah salafiyah keras dan kasar, maka kami mempersilakannya, bahkan kami berharap kepada mereka yang mengaku berjiwa dan berbahasa lembut dan menuduh kami kasar dan keras, untuk memahami konsep tauhid dan syirik serta sunnah dan bid’ah, kemudian agar menyeru kepada tauhid dan sunnah dan memberantas syirik dan bid’ah secara terang-terangan tanpa ditutup-tutupi, bahwa yang tauhid itu tauhid dan syirik itu syirik, yang sunnah itu sunnah dan yang bid’ah itu bid’ah, yang haq itu haq dan yang haram itu haram, sehingga perkaranya menjadi jelas dan umat dapat memurnikan ibadah kepada Allah dengan syariat yang dibawa oleh Raasulullah sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh beliau dan para sahabatnya yang bersih dari syirik, takhayul, bid’ah dan khurofat.

Dari sinilah, orang-orang yang menuduh dakwah salafiyah itu keras bisa diketahui maksudnya, bahwa sebenarnya yang membuat dada mereka sesak, menyebarkan provokasi terhadap dakwah salafiyah, smapai rela berdusta dan membolak-balikkan serta mencari pendukung walaupun dari orang-orang yang rusak pemikirannya dan tidak sefikrah dengannya dalam perkara yang mendasar, belum lagi dari orang-orang yang jelas mengkafirkan penguasa dan jajarannya padahal sesepuh mereka juga banyak yang berada di jajaran tersebut. Namun, demi memenuhi ambisi dan hawa nafsunya, mereka mau merangkul siapa saja dalam rangka memusuhi dakwah ini. Apakah yang mereka lakukan ini, memang sekedartidak rela dengan cara dan bahasa yang mereka anggap kasar ataukah mereka memang mengingkari dakwah tauhid dan sunnah, memberantas syirik dan bid’ah?

Syaikh DR. Muhammad Musa Alu Nashr menyebutkan dalam kitabnya Min Ma’alim al-Manhaj an-Nabawi hal. 20-23: “acapkali para da’i salafi dituduh sebagai orang yang kasar dan keras, yang tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah agar umat menjauh darinya dan dari dakwahnya, padahal tuduhan-tuduhan ini sebenarnya juga ada pada seluruh kelompok, sebab kesempurnaan hanya milik Allah dan kemaksuman hanya ada pada diri Nabi.”

Kemudian beliau mengisahkan bahwa suatu ketika syaikh  Jamilur Rahman, pemimpin Jama’ah al-Jihad al-Afghani as-Salafi ditanya: “Ada yang mengatakan bahwa cara Anda di dalam berdakwah kepada akidah yang benar adalah keras lagi membuat orang malah menjauh?!” Maka beliau rahimahullah menjawab: “Kami mengetahui bahwa memang termasuk kewajiban di dalam dakwah adalah memperhatikan kondisi al-Mukhathab (yang didakwahi), dengan memilih cara yang lembut, tidak keras dan tidak membuat orang malah menjauh.

Allah ta’ala berfirman:

“maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (QS. Thaha:44)

“maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran:159)

serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl:125)

Sesungguhnya, kami tidak keluar dari batasan-batasan tersebut demi mengagungkan perintah Allah dan meneladani para nabi-Nya. Maka, sungguh orang-orang yang menuduh kami sebagai orang yang kasar dan keras, sedangkan mereka termasuk orang-orang yang berakidah shahihah, tahu akan kewajiban mendahwahkan dan menunaikan haknya dengan sebenar-benarnya dan memiliki sikap yang jelas sehingga manusia mengetahui akidah dan dakwahnya, lalu mereka dapati bahwa metode kami keras, maka selayaknya mereka mau mengoreksi apa yang mereka lihat, menunjukkan kepada kami metode yang cocok yang lemah lembut, karena kami tidak pernah mengatakan sebagai orang yang paling baik dalam menempuh cara dakwah, karena ini hanya ada pada diri para Nabi ‘alaihimus shalatu wasallam, dan mereka adalah orang-orang makshum (terjaga dari kesalahan) di dalam tabligh (penyampaian) dan risalah dengan kemaksuman yang dianugerahkan oleh Allah dan diperkuat dengan wahyu-Nya. Setidak-tidaknya, yang kami kaui dan kami yakini bahwa akidah kita adalah akidah yang benar dan mendakwahkannya adalah wajib. Walaupun juga wajib bagi kita untuk memilih cara yang sesuai lagi memiliki hal-hal yang menyebabkan dapat diterimanya dakwah.

Akan tetapi jika orang-orang yang menuduh kami adalah dari kalangan orang-orang yang menyelisihi akidah dan dakwah, maka ketika meeka mencela dengan tuduhan bahwa kami keras atau kasar maka ini tidak lain dan tidak bukan karena mereka menyelisihi dakwah tauhid dan memeranginya dengan cara yang licik.

Kami katakan kepada mereka:

“Kemarilah, mari kita bahas permasalahan yang prinsip, yaitu perkara akidah dan dakwah, kemudian setelah selesai dan kita sepakati, mari kita membahas tentang metode dakwah dan kita pilih cara-cara yang kalian inginkan dengan kesepakatan. Adapun apabila sejak awal kalian menyelisihi pokok permasalahan, atau kalian lebih memilih diam atau mencari muka, maka tidak selayaknya kalian mencela dakwah yang benar ini, tapi instropeksilah kalian sebelum kalian melihat perbuatan orang lain.”

Sesungguhnya para pelaku bid’ah dan pengekor hawa nafsu itu senantiasa menghadapi ahlus sunnah dengan lontaran celaan bahwa mereka adalah orang yang kasar, bahkan mereka tidak segan-segan mengkafirkan dan mengeluarkan orang-orang yang  yang menyelisihi hawa nafsunya dari agama, mereka juga tidak mau shalat di belakang ahlus sunnah dan melarangnya (Khawarij), bahkan mereka memfatwakan akan bolehnya membunuhnya, serta memprovokasi orang-orang awam kaum muslimin untuk memerangi dan menyakitinya. Hal ini adalah jelas bagi siapa yang mengetahui keadaan ahlul bid’ah sejak dahulu kala. (Jama’atud Dakwah ila al-Qur’an an-Sunnah, hlm. 45-50)

Akhirnya kita memohon kepada Allah agar menghidupkan kita di atas tauhid dan sunnah dan mendakwahkannya dengan sabar dan istiqomah, serta mematikan kita di atasnya. Semoga kita dijauhkan dari orang-orang kafir, munafik dan yang di hatinya ada penyakit, yang suka menebar fitnah menyebarkan kekejian dan dusta. Allah mengingatkan ,

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanmpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS. Al Ahzab:58)

Dan firmannya,

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar berita perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.(QS. An-Nur:19)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta ketika memberitakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Abu Hurairah)

*** *** ***

Dari Majalah Islamiyyah Manhajiyyah “adz-Dzakiirah al-Islamiyyah vol.8 No.5 Edisi 59-1431/2010

Oleh :Abu Mundzir Abdurrahman Hadi, Lc.

Pos ini dipublikasikan di Manhaj dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s