Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi

“Ya, Allah, berikanlah sebuah bukti kepadanya di atas kebaikan yang dia niatkan.” (Doa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuknya)

Ath-Thufail bin Amru ad-Dausi adalah kepala kabilah Daus di masa jahiliyah, salah seorang pemuka orang-orang Arab yang berkedudukan tinggi, satu dari pemilik muru’ah yang  diperhitungkan orang banyak.

Bejana miliknya tidak pernah turun dari api karena senantiasa dipakai untuk memasak dalam rangka menjamu tamu dan pintu rumahnya tidak pernah ditutup dari tamu yang mengetuk untuk bermalam.

Dia adalah potret manusia yang memberi makan orang yang lapar, memberi rasa aman bagi orang yang takut dan memberi  perlindungan kepada orang yang memerlukan perlindungan.

Ath-Thufail  meninggalkan kampung halamannya di Tihamah menuju Makkah pada saat terjadi pertentangan antara Rasulullah dengan orang-orang kafir Quraisy, disaat Rasul berusaha menyampaikan dakwah Islam kepada penduduknya.

Rasulullah  menyeru mereka kepada Allah, senjata beliau adalah iman dan kebenaran. Sementara orang-orang kafir Quraisy memerangi dakwah beliau dengan segala macam senjata, menghalang-halangi manusia darinya dengan berbagai macam cara.

Dia tidak datang ke Mekkah untuk tujuan tersebut, perkara Muhammad dan orang-orang Quraisy tidak pernah terbetik dalam pikiran sebelum itu.

Ath-Thufail berkisah,

Aku datang ke Mekkah, begitu para pembesar Quraisy melihatku, mereka langsung menghampiriku, menyambutku dengan sangat baik dan menyiapkan tempat singgah bagiku.

Kemudian para pemuka dan pembesar Quraisy mendatangiku sembari berkata, “Wahai Thufail, sesungguhnya kamu telah masuk ke negeri kami, dan laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai Nabi itu telah merusak urusan kami dan memecah belah persatuan kami serta menceraiberaikan  persaudaraan kami. Kami hanya khawatir apa yang menimpa kami ini akan menimpamu sehingga mengancam kepemimpinan atas kaummu. Maka jangan berbicara dengan laki-laki itu, jangan mendengar apa pun darinya, karena dia mempunyai kata-kata  seperti sihir, memisahkan seorang anak dari bapaknya, seorang saudara dari saudaranya, seorang istri dari suaminya.”

Ath-Thufail berkata,

Demi Allah, mereka terus menceritakan berita-beritanya yang aneh, menakut-nakuti atas diri dan kaumku dengan perbuatan-perbuatan Muhammad yang terkutuk dan tercela sampai aku pun bertekad bulat untuk tidak mendekat kepadanya, tidak berbicara dengannya dan tidak mendengar apa pun darinya.

Manakala aku berangkat ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf di Ka’bah dan mencari keberkahan kepada berhala-berhala yang kepada merekalah kami mengagungkan, aku menyumbat kedua telingaku dengan kapas karena aku takut ada perkataan Muhammad yang menyusup ke telingaku.

Begitu aku masuk masjid, aku melihat Muhammad sedang berdiri. Dia shalat di Ka’bah dengan shalat yang berbeda dengan shalat kami, beribadah dengan ibadah yang berbeda dengan ibadah kami, pemandangan itu menarik perhatianku, ibadahnya menggugah nuraniku. Tanpa sadar aku melihat diriku telah mendekat kepadanya sedikit demi sedikit, sehingga tanpa kesengajaan diriku telah benar-benar dekat kepadanya.

Allah pun membuka hatiku sebagian apa yang diucapkan Muhammad terdengar olehku, aku mendengar ucapan yang sangat indah. Aku berkata kepada diriku, “Celaka kamu Thufail, sesungguhnya kamu adalah laki-laki penyair yang cerdas, kamu mengetahui yang baik dan yang buruk, apa yang menghalangimu untuk mendengar dari ucapan laki-laki ini? Jika apa yang dia bawa itu baik maka kamu harus menerimanya, jika buruk maka kamu harus membuangnya.”

Ath-Thufail berkata ,”Aku diam sampai Rasulullah meninggalkan tempatnya menuju rumahnya, aku mengikutinya sampai dia masuk ke dalam rumahnya dan aku pun masuk kepadanya. Aku berkata ,”Wahai Muhammad, sesungguhnya kaummu telah berkata tentangmu begini dan begini. Demi Allah mereka terus menakut-nakutiku dari ajaranmu sampai aku menutup kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar kata-katamu. Aku melihatnya baik, maka jelaskanlah ajaranmu kepadaku.”

Di saat itulah Rasulullah menjelaskan agamanya kepadaku, beliau membacakan surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, aku tidak pernah mendengar sebuah ucapan yang lebih bagus dari ucapannya, aku tidak melihat sebuah perkara yang lebih adil daripada perkaranya.

Pada saat itu aku mengulurkan tanganku untuknya, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku masuk Islam.”

Ath-Thufail berkata,

Kemudian aku tinggal di Mekkah beberapa waktu. Selama disana aku belajar-belajar Islam dan aku menghafal al-Qur’an yang mungkin untuk aku hafal. Ketika aku berniat untuk pulang ke kabilahku, aku berkata, “Rasulullah, sesungguhnya aku adalah laki-laki yang ditaati di kalangan kaumku, aku akan pulang untuk mengajak mereka kepada Islam. Berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku sebuah bukti  yang mendukungku dalam dakwah kepada mereka.”

Maka Nabi berdoa, “Ya Allah, berikanlah dia sebuah bukti.”

Aku pun pulang kepada kaumku, ketika aku tiba di sebuah tempat yang dengan perkampungan mereka, tiba-tiba secercah cahaya muncul di keningku seperti  lampu, maka aku berkata, “Ya Allah, pindahkanlah dia ke tempat lain, karena khawatir mereka akan mengira bahwa ini merupakan hukuman yang menimpa wajahku karena aku meninggalkan agama mereka.”

Maka cahaya itu berpindah ke ujung cemetiku, orang-orang melihat cahaya tersebut di ujung cemeti seperti lampu yang tergantung, aku turun kepada mereka dari sebuah jalan di bukit,  Manakala aku tiba  di perkampungan, bapakku yang sudah berumur lanjut menyambutku, aku berkata kepadanya, “Menjauhlah engkau dariku, aku bukan termasuk dari golonganmu dan engkau bukan termasuk golonganku.”

Bapakku bertanya, “Mengapa wahai anakku?”

Aku menjawab, “Aku telah masuk Islam, aku mengikuti Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Dia berkata, “Anakku, agamamu adalah agamaku juga.”

Aku berkata, “Pergilah, mandilah dan sucikanlah pakaianmu, kemudian kemarilah aku akan mengajarimu apa yang aku ketahui.”

Maka bapakku pun pergi, dia mandi dan menyucikan bajunya, kemudian dia datang dan aku menjelaskan Islam kepadanya dan dia masuk Islam.

Kemudian istriku pun pergi, aku berkata padanya, “Menjauhlah dariku, aku bukan termasuk golonganmu dan kamu bukan termasuk golonganku.”

Dia bertanya , “Bapak dan ibuku sebagai jaminanku, mengapa?”

Aku menjawab, “Islam memisahkan antara diriku dan dirimu, aku telah mengikuti Muhammad.”

Dia berkata, “Agamamu adalah agamaku.”

Aku berkata, “Pergilah dan bersucilah dari air Dzi Asy-Syura (berhala dikelilingi air).”

Dia berkata, “Bapak dan ibuku sebagai jaminanku, apakah kamu takut sesuatu terhadap wanita ini dari Dzi asy-Syura?”

Aku menjawab, “Celaka kamu dan celaka juga Dzi asy-Syura, aku katakan kepadamu, ‘Pergilah, mandilah di sana jauh dari penglihatan orang-orang, aku menjamin bahwa batu pejal itu tidak akan melakukan apa pun terhadapmu.”

Dia pun pergi untuk mandi, kemudian dia datang,aku menjelaskan Islam kepadanya maka dia masuk Islam.

Kemudian aku mengajak kaumku Daus, namun mereka tidak menjawab dengan segera, kecuali Abu Hurairah, dia adalah orang yang paling cepat menjawab seruanku.

Ath-Thufail berkata,

Aku datang bersama Abu Hurairah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Makkah. Di saat itu Nabi bersabda kepadaku, kaummu masih tertutup sekat tebal dan kekufuran yang keras. Orang-orang Daus telah dikuasai oleh kefasikan dan kemaksiatan.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri mengambil air, beliau wudhu kemudian mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangan ke langit. Abu Hurairah berkata, “Manakala aku melihat beliau melakukan itu, aku takut beliau berdoa buruk atas kaumku, akibatnya mereka binasa. Maka aku berkata, ‘Celaka kaumku.”

Tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada  Daus. Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada Daus. Ya Allah,   berikanlah petunjuk kepada Daus.”

Kemudian beliau menoleh kepada Ath Thufail dan berkata, “Pulanglah kepada mereka, serulah mereka kepada Islam dengan lemah lembut.”

Ath-Thufail berkata,

Aku terus tinggal di kampung Daus, aku mengajak mereka kepada Islam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berhijrah ke Madinah. Perang Badar, Uhud, Khandaq berlalu. Aku datang kepada Nabi bersama delapan puluh keluarga dari Daus yang telah masuk Islam dan Islam mereka pun telah bagus, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbahagia dengan kehadiran kami,  beliau memberikan bagian harta rampasan perang Khaibar kepada kami sama dengan kaum muslimin lainnya.

Kami berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, jadikanlah kami sebagai sayap kanan pasukanmu dalam setiap peperangan yang engkau terjuni. Jadikanlah syiar kami,’ Mabrur.”

Ath Thufail berkata,

Setelah itu aku terus bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai Allah membuka Makkah untuk beliau. Aku berkata, “Ya Rasulullah, tugasilah aku ke Dzul Kafain untuk menghancurkan berhala Amru bin Hamamah, aku ingin menghancurkannya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  mengizinkannya, ath Thufail berangkat dengan sebuah  pasukan yang terdiri dari kaumnya.

Ketika ath Thufail tiba di sana, dia hendak membakarnya, kaum laki-laki, wanita dan anak-anak memperhatikannya, mereka berharap ath Thufail akan ditimpa keburukan, mereka berharap sebuah halilintir menyambarnya jika dia menghancurkan Dzul Kafain.

Namun ath Thufail tetap bergerak maju kepada berhala tersebut di hadapan tatapan mata para pemujanya.

Ath Thufail menyalakan api, membakar dada berhala itu sambil bersyair,

Wahai Dzul Kafain, aku tidak termasuk pemujamu

Kelahiran kami mendahului kelahiranmu

Sesungguhnya aku membakar dadamu dengan api

Api melahap berhala itu, sekaligus melahap sisa-sisa syirik yang ada pada kabilah Daus, maka mereka masuk Islam dan Islam mereka bagus.

Setelah itu ath Thufai bin Amru ad-Dausi senantiasa mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam   sampai beliau wafat dan berpulang ke hadapan Rabbnya.

Setelah itu khilafah berpindah ke tangan Abu Bakar, Ath Thufail memberikan jiwanya, pedangnya, dan anaknya dalam menaati khalifah Rasulullah.

Ketika perang Riddah berkecamuk, ath Thufail berada di barisan dengan bala tentara muslimin untuk memerangi Musailamah al-Kadzdzab, putranya ikut bersamanya.

Ketika dia sedang menuju al-Yamamah, ath Thufail bermimpi, dia berkata kepada kawan-kawannya, “Aku bermimpi, tolong jelaskan kepadaku apa artinya?”

Mereka bertanya, “Mimpi apa?”

Dia berkata, “Aku bermimpi kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, seorang wanita memasukkanku ke dalam perutnya, anakku Amru mencari-cariku dengan gigih namun antara diriku dengan dirinya ada penghalang.”

Mereka berkata, “Itu mimpi yang baik.”

Selanjutnya ath Thufail berkata, “Aku sudah bisa mengartikan makna mimpiku. Kepalaku dicukur, artinya ia dipotong. Seekor burung keluar dari mulutku, artinya arwahku meninggalkan jasadku. Wanita yang memasukkanku ke dalam perutnya adalah bumi yang digali lalu aku dikubur di sana. Anakku gigih mencariku, artinya dia mengharapkannya syahadah yang akan aku dapatkan dengan izin Allah, anakku akan mendapatkannya kelak.”

Di perang Yamamah, shahabat yang mulia Amru bin ath Thufail ad-Dausi berperang dengan gigih, memperlihatkan kepahlawanannya dengan gagah berani, sampai dia gugur sebagai syahid di bumi perang Yamamah.

Adapun anaknya, Amru, maka dia terus berperang sampai tubuhnya penuh luka, tangan kanannya terpotong, dia pulang ke Madinah meninggalkan bapaknya sementara tangan kanannya dikubur di bumi Yamamah.

Di masa khalifah Umar bin al-Khatthab, Amru bin Ath Thufail datang menemuinya, tatkala makanan dihidangkan kepada al-Faruq sementara orang-orang duduk di sekelilingnya, dipersilakan untuk menyantap hidangan, Amru justru malah menjauh darinya. Maka al-Faruq bertanya kepadanya,

“Ada apa dengan dirimu? Apakah kamu menjauh dari makanan ini karena kamu merasa malu dengan tanganmu?”
Dia menjawab, “Benara wahai Amirul Mukminin.”

Umar pun berkata, “Demi Allah, aku tidak menyantap makanan ini sehingga kamu mencampurnya melalui bagian tanganmu yang terputus itu. Demi Allah, di antara yang hadir ini tidak ada seseorang yang sebagian anggotanya telah tinggal di surga selainmu.” Maksudnya adalah tangannya.

Impian syahadah terus berkibar dalam angan-angan Amru sejak dia berpisah dari bapaknya. Perang Yarmuk tiba, Amru ath Thufail bersegera berpartisipasi di dalamnya bersama orang-orang yang bersegera, dia berperang sehingga dia meraih syahadah yang diharapkan oleh bapaknya untuknya.

Semoga Allah merahmati ath-Thufail bin Amru ad-Dausi, seorang syahid dan bapak dari seorang syahid.

*** *** ***

Semoga Berfaedah.

Ditulis ulang dengan sedikit perubahan dari buku “Mereka Adalah Para SHAHABAT”(hlm.26-32)  karya DR. Abdurrahman Ra’fat Basya”  dengan judul asli “Shuwaru min Hayatish Shahabah”.

Penerbit At Tibyan.

Pos ini dipublikasikan di Kisah Teladan dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s