Kafirkah Orang Yang Tidak Mengkafirkan Orang Lain

VONIS KAFIR MERUPAKAN HUKUM SYAR’I

Dalam masalah vonis kafir, pertama kita harus mengetahui, takfir (memvonis kafir) merupakan hukum syar’i. Artinya, harus merujuk kepada Allah dan RasulNya, sebagaimana halnya hukum-hukum syar’i lainnya. Takfir merupakan hak Allah dan Rasul-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Penetapan hukum wajib dan hukum haram, penetapan pahala dan siksa, penetapan hukum kafir atau fasiq, rujukannya ialah Allah dan Rasul-Nya.”*

Beliau rahimahullah juga menegaskan, hukum kafir dan fasiq termasuk hukum syar’i, bukan termasuk hukum yang dapat ditetapkan oleh akal secara bebas. Orang kafir ialah orang yang telah ditetapkan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan orang fasiq oleh Allah dan Rasul-Nya.

Begitu pula Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, takfir merupakan hukum syar’i. Orang kafir ialah orang yg telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.*

 

Lebih lanjut Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, takfir (vonis kafir) terhadap orang-orang murtad, bukanlah syari’at  yang dibuat kaum Khawarij, juga tidak oleh golongan lainnya. Juga bukan dari hasil pemikiran. Namun takfir merupakan hukum syar’i yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atas orang-orang yang berhak mendapatkannya, karena melakukan salah satu dari pembatal-pembatal keIslaman, baik pembatal qauliyah, i’tiqadiyah maupun fi’liyah,  sebagaimana telah dijelaskan para ulama dalam masalah hukum-hukum bagi orang murtad. Hukum-hukum tersebut diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.

Oleh karena itu, siapapun tidak boleh menjatuhkan vonis kafir dengan dasar hawa nafsu atau akal pemikirannya. Jika ia melakukannya, berarti ia telah berhukum dengan selain hukum Allah dalam masalah ini. Oleh sebab itu, ulama Ahlus-sunnah wal Jamaah tidak sembarangan dalam menjatuhkan vonis kafir terhadap orang tertentu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Oleh karena itu ahli ilmu dan Ahlis Sunnah tidak mengkafirkan mereka-karena takfir merupakan hukum syar’i dan seseorang tidak boleh membalas dengan semisalnya. Sebagaimana orang yang berdusta thpmu, orang yg berzina dengan keluargamu, tentu kamu tidak boleh berdusta terhadapnya atau berzina dengan keluargannya. Karena dusta dan zina hukumnya haram- berdasarkan hak Allah- demikian pula takfir; ia merupakan hak Allah. Sehingga, tidak boleh menjatuhkan vonis kafir, kecuali terhadap orang yang telah dikafirkan oleh Allah dan Rasul-Nya.*

KAIDAH SYARI’AT: BARANGSIAPA TIDAK MENGKAFIRKAN ORANG LAIN, MAKA IA KAFIR!

Maksud kaidah ini harus diperjelas. Karena merupakan kewajiban, siapa saja yang berbicara tentang masalah ilmiah, ia harus memperjelas makna istilah yang digunakan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan perkara yang diperselisihkan oleh kaummutaakhirin  tentang penetapan dan penafiannya, maka bagi seseorang-termasuk dirinya sendiri- tidak wajib untuk menyepakati seseorang atas penetapan ungkapan tertentu atau penafiannya, hingga ia mengetahui maksudnya. Jika maksudnya hak, maka diterima. Jika maksudnya bathil, maka ditolak. Jika ungkapan itu mengandung makna ungkapan itu mengandung makna hak dan bathil, maka tidak diterima secara mutlak; begitu pula tidak ditolak secara keseluruhan. Ungkapan tersebut harus diperjelas dan ditafsirkan maknanya.

Beliau rahimahullah juga mengatakan, ungkapan hakikat-hakikat iman dengan menggunakan al-Qur’an lebih utama drpd menggunakan ungkapan selainnya. Ungkapan al-Qur’an wajib diimani, karena ia merupakan wahyu yang diturunkan Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.*

Demikian juga ungkapan, ‘barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir, maka ia kafir,’ maka kaidah ini harus diperjelas maksudnya. Jika maksudnya tidak meyakini kekafiran orang-orang yg telah dinyatakan kafir oleh Allah dan Rasul-Nya,seperti: Fir’aun, Abu Lahab, dan sejenisnya maka ia kafir. Atau juga yang mengatakan Yahudi, Nasrani, Majusi atau sejenisnya bukan kafir, bahkan meyakini mereka termasuk sebagai kaum Muslimin, maka kaidah tersebut dianggap benar. Karena konsekwensinya, orang itu tidak berlepas diri dari orang-orang kafir. Allah berfirman:

“Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”

Dengan demikan ia telah menentang hukum Allah yang telah menjatuhkan vonis kafir terhadap orang-orang tersebut. Seperti halnya orang-orang yang meyakini kesatuan agama. Yaitu mereka berkeyakinan semua agama adalah sama. Beranggapan bahwa orang Nasrani dan Yahudi juga merupakan orang-orang muslim mukmin; maka orang yang berkeyakinan seperti itu bisa jatuh vonis kafir, apabila telah terpenuhi syarat-syarat takfir dan tidak ada lagi penghalangnya.

Syaikh Bakr Abu Zaid menjelaskan masalah ini sebagai berikut:

Setiap muslim yang mengimani Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai nabi dan rasul-Nya, (ia) wajib mentaati Allah dengan membenci orang-orang kafir, Yahudi, Nasrani, dan kaum kafir lainnya. Wajib memusuhi mereka karena Allah tidak mencintai dan tidak mengasihi mereka, tidak loyal dan tidak menyerahkan urusan kepada mereka, sehingga mereka beriman kepada Allah semata, memeluk Islam sebagai agama mereka, dan beriman kepada Muhammad sebagai nabi dan rasul mereka. Lihat QS. al-Maidah/ 5:51.

Di antara bukti terputusnya wala’ (loyalitas) antara kita dengan mereka, ialah tidak adanya waris-mewarisi antara muslim dan kafir selama-lamanya. Setiap muslim wajib meyakini kekufuran setiap orang yang menolak memeluk Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani maupun selainnya.  Wajib menamainya kafir. Wajib meyakini mereka sebagai musuh, dan meyakini mereka sebagai penduduk neraka. Lihat QS.al-A’raf/7:158.

Di dalam Shahih Muslim diriwayatkan, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda:

“Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seorangpun dari umat menusia yang mendengar kerasulanku, baik ia seorang Yahudi, maupun Nasrani lalu mati dalam keadaan belum beriman kepada ajaran yang kubawa, melainkan ia pasti termasuk penduduk neraka.”

Oleh karena itu, barangsiapa tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani, maka ia kafir. Ini sebagai konsekuensi dari kaidah syariat, “barangsiapa tidak mengkafirkan orang kafir, maka ia kafir.”

Kita mengatakan kepada Ahli Kitab, sebagaimana Allah telah mengatakan di dalam Kitab-Nya:

“Berhentilah (dari ucapan). (Itu) lebih baik bagimu.”(QS.an-Nisa’/4:171)

Sehingga, siapapun pada hari ini, tidak dibenarkan tetap bertahan memegang dua syari’at tsb, yaitu agama Yahudi dan Nasrani. Apalagi memeluk salah satu dari keduanya. Tidak dibenarkan memeluk agama, selain agama Islam. Tidak dibenarkan berpredikat selain sebagai muslim, atau sebagai pengikut millah Ibrahim.*

Adapun orang-orang yang masih diperselisihkan status kekafirannya oleh para ulama, misalnya orang yang meninggalkan shalat atau orang yang jelas melakukan amalan kekufuran namun syarat jatuhnya vonis kafir terhadap mereka belum terpenuhi, dan belum hilang penghalang-penghalang jatuhnya vonis kafir;  maka penerapan kaidah tersebut terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dalam menjatuhkan vonis kafir merupakan perkara besar yang akan membuka pintu-pintu kejelekan, pertumpahan darah, dan fitnah.

Di antara ushul Islam, yaitu wajibnya meyakini kekafiran orang yang tdk masuk ke dalam agama Islam dari kalangan Yahudi, Nasrani dan selain mereka, menyebutnya kafir, bagi yang telah tegak atasnya hujjah, meyakini bahwa ia musuh Allah, musuh Rasul-Nya dan musuh orang-orang beriman, dan meyakini bahwa ia ahli neraka. Sebagaimana firman Allah lihat Surah al-Bayyinah/98:1 dan 6, surat al-An’am/6:19.,surat Ibrahim/14:52.

Demikianlah ayat-ayat yang menyebutkan tentang kekafiran ahli kitab, dan masih banyak ayat lainnya yang semakna dengan itu.

Oleh karena itu barangsiapa yang tidak mengkafirkan Yahudi dan Nasrani, maka ia kafir. Yaitu mengikuti kaidah syari’at,’barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir sesudah hujjah tegak atas diri orang kafir tersebut, maka ia kafir.’

PENYALAHGUNAAN KAIDAH INI OLEH KELOMPOK JAMA’AH TAKFIR WAL-HIJRAH

Namun kaidah barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, maka ia kafir, telah disalahgunakan oleh kelompok yang senang mengkafirkan kaum muslimin, yaitu kelompok jama’ah takfir wal hijrah.

Jama’ah takfir dan hijrah ini mengkafirkan kaum muslimin yg tidak sejalan dengan keyakinan Khawarij mereka dengan hujjah “barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, maka ia kafir” . Mereka juga mengkafirkan siapa saja yang tidak mengkafirkan penguasa muslim yang telah mereka kafirkan. Merekapun mengkafirkan orang-orang yang tidak mengkafirkan muslim yang melakukan dosa besar. Dalam hal ini, mereka berjalan di atas manhaj pendahulu mereka, yaitu Khawarij!

Penyalahgunaan ini yang menyebabkan terjadinya fitnah di tengah kaum muslimin, membuka pintu-pintu kejahatn, pertumpahan darah, penghalalan harta dan kehormatan di tengah kaum Muslimin,wal  iyadzu billah.

Intinya, kita harus memahami  kaidah syari’at yang berbunyi “barangsiapa yang tdk mengkafirkan orang kafir, maka ia kafir” tersebut menurut pemahaman yang telah dijelaskan dan disyarah oleh para ulama yang terpercaya, yaitu ulama salaf. Jangan memahaminya secara serampangan, karena berakibat fatal dan menyeret kepada kesesatan.

SIAPAKAH JAMA’AH TAKFIR WAL-HIJRAH

Syaikh Nashir bin ‘Abdul Karim al-‘Aql menjelaskan secara sekilas tentang jama’ah ini sebagai berikut:

Jama’ah takfir wal hijrah merupakan bukti keberadaan Khawarij pada abad ini. Mereka menamakan diri Jama’tul Muslimin. Muncul di Mesir dan diprakarsai oleh Syukri Musthafa, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian di Asyuth(Universitas Asyuth).

Pemikiran-pemikiran Khawarij menghinggapi pikirannya setelah ia dihukum sekitar tahun 1385 H. Dia banyak mendapatkan paham ini ketika berada di dalam penjara, hingga sekitar tahun 1391 H. Akhirnya jama’ahnya bertambah besar dan pemikirannya kian berkembang. Sikap mereka sangat berlebih-lebihan, hingga tokoh-tokoh mereka terbunuh setelah mereka menculik Dr. Muhammad Husein adz-Dzahabi.

Dasar pemikiran dan ciri-ciri Khawarij pada abad ini(jama’ah takfir wal hijrah) sebagai berikut.

Pertama. Mengkafirkan. Hal ini mencakup:

*Mengkafirkan para pelaku dosa besar dan menganggap mereka keluar dari agama kekal selamanya di dalam neraka.

*Menganggap kafir siapa saja yg berbeda dgn mereka dari kalangan kaum Muslimin(ulama atau yang selainnya)

*Mengkafirkan siapa saja yang keluar dari jama’ah mereka yang dahulu pernah bersama jama’ah mereka.

*Menganggap kafir siapa saja yang tdk berhukum dg hukum Allah secara mutlak dan tanpa perincian…dsb.

Kedua. Kewajiban hijrah dan ‘uzlah(menyendiri). Hal ini mencakup:

*Meninggalkan masjid kaum Muslimin dan tidak boleh shalat di dalamnya, walaupun harus meninggalkan shalat Jum’at.

*Tidak bergaul dengan masyarakat muslim yang ada di sekitarnya secara mutlak.

*Tidak membolehkan menjadi pegawai negeri dan tidak boleh bekerja pd yayasan-yayasan umum, serta mengharamkan bekerja di lingkungan yang mereka sebut sebagai masyarakat jahiliyah…dsb.

Ketiga. Mengajak umat agar buta huruf dan memerangi pendidikan.

Hal ini mereka serukan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat beliau merupakan orang-orang buta huruf, kecuali sebagian kecil saja.

Keempat. Sikap diam dan klarifikasi (kaidah tabayyun).

Yang mereka maksudkan dalam hal ini, yakni sama dengan maksud pendahulu mereka,yaitu  Khawarij terdahulu. Yaitu tawaqquf (tidak menilai) terhadap seseorang yang masih belum jelas statusnya, apakah kelompok mereka atau bukan. Mereka tidak menghukumnya kafir dan tidak mengatakan ia muslim, kecuali setelah jelas ia dari kelompok mereka dan telah membai’at imam mereka.

Kelima. Mereka mengatakan, tokoh mereka (yaitu Syukri Musthafa) sebagai imam mahdi yang muncul pada akhir zaman, dan Allah akan memenangkan agama ini dengannya, dari agama yg lain di muka bumi.

Keenam. Mereka memiliki anggapan, jama’ah mereka jama’ah kaum Muslimin, jama’ah akhir zaman yang akan membunuh Dajjal. Dan menurut mereka, waktu munculnya Dajjal serta turunnya ‘Isa alaihissallam  sudah dekat…dsb.

Ketujuh. Mereka mengatakan, bahwa kewajiban syari’at bisa saling berbenturan.

Maksud mereka dari anggapan ini, yang dibolehkan meninggalkan sebagian kewajiban ketika ada hal yang lebih besar yang tidak bisa kita lakukan, kecuali dengan meninggalkan syariat tersebut. Mereka meninggalkan shalat Jum’at, karena menganggap mereka dalam masa lemah, padahal syarat Jum’at ialah bila telah adanya kekuasaan. Sebagian kalangan mereka membolehkan mencukur jenggot akan mempersempit ruang gerak dan berbahaya bagi mereka.

Kedelapan. Dasar-dasar dan ciri-ciri bid’ah lainnya, seperti:

*Pendapat tentang adanya fase hukum. Yaitu mereka dibolehkan meninggalkan sebagian syariat (shalat Jum’at dan shalat ‘Ied), serta boleh melakukan sebagian yang diharamkan, seperti menikah dengan wanita kafir, mencukur jenggot dan memakan sembelihan orang kafir, karena mereka beranggapan berada dalam fase lemah sebagaimana pada masa dakwah Nabi di Mekkah.

*Membuat dasar syari’at baru yang berbeda dari manhaj salaf. Mereka menolak ijma’, melarang taqlid dan ittiba'(mencontoh) secara mutlak, sehingga mereka mewajibkan semua manusia  untuk berijtihad.

*Mereka tidak berpedoman kepada pemahaman para shahabat, ulama dan para imam dalam memahami al-Qur’an dan Hadits.

*Mereka bersikap keras dan kasar dalam bergaul.

*Mereka merasa berilmu, sombong, dan merasa lebih istimewa dari kaum Muslimin lainnya…dsb.

PENETAPAN HUKUM KAFIR DISERAHKAN KEPADA KALANGAN KHUSUS ULAMA

Dalam masalah menjatuhkan hukum kafir, Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan: “Tidak semua orang behak menjatuhkan vonis kafir, atau berbicara tentang vonis kafir terhadap jama’ah tertentu, atau orang tertentu. Takfir memiliki batasan-batasan dan kaidah. Barangsiapa melakukan salah satu pembatal-pembatal Islam, maka ia dihukumi kafir.”

Kemudian beliau melanjutkan:

Takfir merupakan masalah yang sangat berbahaya. Tidak sembarang orang boleh berbicara tentang masalah ini terhadap orang lain. Kewenangan ini merupakan milik mahkamah syar’i, merupakan kewenangan ahli ilmu yang luas imunya, yang mengetahui Islam dan mengetahui pembatal-pembatalnya, mengetahui kondisi serta keadaan manusia dan masyarakat. Mereka inilah berhak menjatuhkan vonis kafir.

Adapun orang-orang jahil dan anggota masyarakat serta para pelajar, mereka tidak berhak menjatuhkan hukum kafir terhadap diri orang tertentu, atau jama’ah tertentu, atau negara tertentu. Karena mereka bukan orang yang ahli dalam bidang tersebut.*

*** *** ***

Penulis : Ustadz Abu Ihsan al-Atsari al-Maidani (Majalah As-Sunnah Edisi 03/TAHUN XI/1428H/2007M)

Catatan:

Tidak semua tulisan artikel dalam majalah tersebut saya sertakan di sini, hanya diambil point-point yang dirasa perlu saja. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Wallahu’alam.

Pos ini dipublikasikan di aqidah dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s