Raja’ bin Haiwah

Tiga ulama di masa Tabi’in yang tidak ada bandingannya dan tidak ada yang menyamainya. Seakan mereka bertemu  dan bersepakat untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan kebajikan, meniti hidupnya di atas taqwa dan ilmu, bertekad berkhidmat kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga kaum muslimin. Mereka adalah Muhammad bin Sirrin dari Iraq, al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr dari Hijaz dan Raja’ bin Haiwah dari Syam.

Mari kita telusuri perjalanan Raja’ bin Haiwah. Dia lahir di Bisaan Palestina, kira-kira di akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiallahu anhu. Asal usulnya dari kabilah Kindah Arab. Sehingga Raja’ adalah orang Palestina keturunan dari Arab dan keluarga Bani Kindah. Beliau tumbuh dalam ketaatan kepada Allah sejak kecil.

Beruntung beliau mendapat kesempatan untuk menimba ilmu dari para sahabat seperti Abu Sa’id Al-Khudri, Abu Darda, Abu Umamah, Ubadah bi Shamit, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abdullah bin Amru bin Ash, Nawwas bin Sam’an, dll. Mereka semua menjadi lentera hidayah dan cahaya pengetahuan bagi beliau.

*** *** *** *** ***

Moto yang dipelihara dan diulang-ulang sepanjang hayatnya adalah:

Betapa indahnya Islam bila berhiaskan iman

          Betapa indahnya iman bila berhiaskan taqwa

          Betapa indahnya ilmu bila berhiaskan amal

          Betapa indahnya amal bila berhiaskan kasih sayang

Raja’ bin Haiwah menjadi menteri dalam periode khalifah Bani Umayah. Dimulai sejak khalifah Abdul Malik bin Marwan hingga masa Umar bin Abdul Aziz. Hanya saja hubungannya dengan Sulaiman bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz lebih istimewa daripada khalifah-khalifah yang lain.

Telah terjadi peristiwa yang dialami Raja’ bin Haiwah sehingga mampu menerangi jalan agar beliau menempuh jalan yang benar dalam bergaul dengan khalifah dan bagaimana dia membatasi diri dalam tugasnya. Beliau menceritakan perihal dirinya sebagai berikut:

“Ketika itu, aku berdiri bersama khalifah Sulaiman bin Abdul Malik di tengah ramainya manusia. Tiba-tiba aku lihat seseorang keluar dari kerumunan masa dan berjalan mendekati kami. Wajahnya tampan dan penuh wibawa, menerobos kerumunan orang sehingga aku merasa pasti dia hendak menghampiri khalifah. Tetapi ternyata dia berdiri di sampingku, memberi salam lalu berkata:

Wahai Raja’, engkau telah diuji melalui orang ini (sambil menunjuk khalifah). Kedekatanmu dengannya bisa mendatangkan kebaikan yang sangat banyak, namun bisa pula menimbulkan keburukan yang banyak. Maka dekatkanlah kedekatanmu dengannya sebagai sarana untuk mendapatkan kebaikan bagi dirimu dan orang lain. Ketahuilah, bila seseorang memiliki kedudukan disisi penguasa kemudian dia mengurus kebutuhan orang-orang yang tak kuasa mengajukannya kepada penguasa, maka dia akan menjumpai Allah di hari kiamat nanti dengan kedua kaki yang mantab untuk dihisab.

Ketahuilah wahai Raja’, barangsiapa yang mencukupi kebutuhan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Ketahuilah wahai Raja’, bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah menyenangkan hati seorang muslim.”

Raja’ berkata, “Ketika aku sedang asyik memperhatikan dengan seksama kata-kata orang itu, dan menunggu kelanjutannya, namun tiba-tiba khalifah memanggil: “Wahai Raja’ bin Haiwah!” Aku bergegas menuju khalifah seraya menjawab :”Aku di sisimu wahai Amirul Mukminin.”

Khalifah menanyakan sesuatu dan aku menjawab. Setelah itu aku segera menengok ke arah orang yang menasehatiku tadi, namun ia sudah tak ada lagi di tempatnya. Aku mencarinya di antara keerumunan orang ramai, namun aku tak mendapatkannya.”

Suatu hari ada orang mengadu kepada khalifah Abdul Malik bin Marwan tentang adanya seseorang yang membenci Bani Umayah dan berpihak kepada Abdullah bin Zubeir. Si pelapor menceritakan perkataan dan perbuatan orang yang dimaksud, hingga memancing amarah khalifah dan mengancam: “Demi Allah jika Allah memberiku kesempatan untuk menangkapnya, sungguh aku akan melakukannya, akan aku kalungkan pedang di lehernya!”

Tak berselang lama setelah itu Allah menaqdirkan khalifah menangkap orang yang diadukan tersebut. Dia digiring ke khalifah dengan kasar. Ketika melihat orang itu, khalifah naik pitam dan hampir melaksanakan ancamannya, namun Raja’bin Haiwah berkata :”Wahai amirul mukminin, Allah telah memberi Anda kesempatan untuk melaksanakn keinginan Anda dengan kekuatan Anda miliki, maka sekarang lakukanlah untuk Allah apa yang disukaiNya, yaitu ampunan.”

Seketika itu juga amarah amirul mukminin menjadi reda dan menjadi tenanglah hatinya. Kemudian dia memaafkan orang tersebut, melepakannya dan memperlakukannya secara baik.

*** *** *** ***

Raja’ bin Haiwah menceritakan salah satu peristiwa bersejarah:

Di awal Juma’at di bulan Shafar tahun 99 H aku mendampingi amirul mukminin Sulaiman di Dabik. Saat itu amirul mukminin telah mengirimkan suatu pasukan yang kuat untuk menggempur Turki di bawah komando saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, didampingi oleh putra beliau Dawud, beserta sebagian dari keluarganya. Beliau telah bertekad untuk tidak meninggalkan Dabik sebelum menguasai Konstantinopel atau mati.

Ketika waktu telah mendekati waktu shalat Jum’at, amirul mukminin berwudhu dengan sebagus-bagusnya wudhu, memakai jubah berwarna hijau dan surban berwarna hijau pula. Beliau bangga melihat keadaannya di depan cermin yang terlihat masih muda, di mana saat itu beliau baru berusia 40 tahun. Kemudian beliau keluar untuk shalat Jum’at bersama orang-orang. Sepulangnya dari shalat Jum’at, tiba-tiba beliau merasa demam. Rasa sakit teersebut kian hari bertambah parah.  Sehingga beliau meminta agar aku (Raja’) senantiasa dekat di samping beliau.

Suatu kali ketika aku masuk ke ruangan khalifah, aku dapati amirul mukminin sedang menulis sesuatu. Aku bertanya,” Apa yang sedang Anda lakukan wahai amirul mukminin?” Beliau menjawab: “Aku menulis wasiat kepada penggantiku, yaitu putraku Ayyub.”

Aku berkata :”Wahai amirul mukminin, ketahuilah bahwa yang akan menyelamatkan Anda dari siksa kubur dan membebaskan Anda dari tanggung jawab kelak di hadapan Allah adalah dengan menunjuk pengganti yang shalih untuk umat ini. Sedangkan putra Anda terlampau kecil, belum dewasa, belum dapat dijamin kebaikan dan keburukannya.” Beliau berkata,”Ini hanya tulisan main-main saja. Untuk itu, aku hendak shalat istikharah dahulu.” Kemudian beliau merobek tulisan tersebut.

Setelah satu atau dua hari kemudian aku dipanggil dan ditanya :”Bagaimana pendapatmu tentang putraku Dawud wahai Abu Miqdam” Aku berkata :”Dia tidak ada disini. Dia sedang berada di medan perang Konstantinopel bersama kaum muslimin dan Anda sendiri tidak mengetahui apakah dia masih hidup atau sudah gugur..” Beliau berkata, “Menurutmu, siapakah gerangan yang pantas menggantikan aku wahai Raja’?”

Aku berkata :”Keputusannya terserah Anda wahai amirul mukminin…” Aku melihat siapa saja yang beliau sebut, sehingga aku bisa mengomentarinya satu per satu, lalu sampailah nama Umar bin Abdul Aziz yang sebenarnya aku maksud.” Beliau berkata :”Bagaiman pendapatmu tentang Umar bin Abdul Aziz?”

Aku berkata: “Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang beliau melainkan bahwa dia adalah orang yang utama, sempurna, berakal, bagus agamanya, dan berwibawa.” Beliau berkata ,”Engkau benar, demi Allah dialah yang layak untuk jabatan ini. Hanya saja jika dia yang aku angkat sementara aku tinggalkan anak-anak Abdul Malik, tentu akan terjadi fitnah.” Aku berkata ,”Kalau begitu, pilihlah salah satu dari mereka dan tetapkan baginya sebagai pengganti setelah Umar.”

Beliau berkata ,”Anda benar, hal itu bisa membuat mereka tenang dan ridha.” Kemudian amirul mukminin mengambil kertas dan beliau tulis :

Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah surat dari hamba Allah, amirul mukminin Sulaimin bin Abdul Malik untuk Umar bin Abdul Aziz. Aku mengangkatmu sebagai khalifah penggantiku, dan setelah kamu adalah Yazid bin Abdul Malik, maka bertaqwallah kepada Allah dan taatilah dia, janganlah kalian bercerai-berai karena akan mengakibatkan senangnya orang-orang yang menginginkan hal itu terjadi atas kalian.”

Kemudian beliau menutup surat itu dan menyerahkannya kepadaku, selanjutnya dikirim ke Ka’ab bin Hamiz selaku kepala keamanan. Lalu khalifah berkata,” Perintahkanlah seluruh keluargaku untuk  berkumpul dan sampaikan bahwa surat wasiat  yang berada di tangan Raja’ bin Haiwah adalah benar-benar pernyataanku. Lalu perintahkan mereka untuk membai’at kepada orang yang disebutkan namanya dalam wasiat itu.”

Setelah semuanya berkumpul, aku berkata,”Ini adalah surat wasiat Amirul Mukminin yang berisi perintah pengangkatan khalifah penggantinya dan beliau memerintahkan aku untuk mengambil bai’at kalian bagi orang yang tercantum sebagai calon penggantinya.” Mereka berkata,”Kami mendengar dan kami taat kepada Amirul Mukminin penggantinya.” Setelah itu mereka minta izin menemui Amirul Mukminin untuk mengucapkan salam. Aku berkata:” Silakan.”

Setelah orang-orang membubarkan diri, Umar bin Abdul Aziz mendekatiku dan berkata ,”Wahai Abu Miqdam, selama ini amirul mukminin begitu baik kepadaku dan telah memberiku kekuasaan karena kebijaksanaan dan ketulusannya dalam masalah ini. Oleh sebab itu aku bertanya karena Allah, atas nama persahabatan dan kesetiakawanan kita, beritahukanlah aku nama tersebut, seandainya dalam wasiat amirul mukminin ada sesuatu yang ditujukan khusus kepadaku, agar aku bisa menolaknya sebelum terlambat.”

Aku berkata ,”Tidak, demi Allah aku tidak akan memberitahukan walau satu hurufpun dari isi surat itu tentang apa yang yang kau inginkan.” Umar bin Abdul Aziz pun pergi merasa kecewa.

Setelah giliran Hisyam bin Abdul Malik mendekatiku dan berkata :”Wahai Abu Miqdam, di antara kita telah terjalin persahabatan yang begitu lama. Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk itu dan tak akan pernah melupakan jasa-jasamu. Maka tolong beritahukan kepadaku isi surat amirul mukminin itu. Jika jabatan tersebut diserahkan kepadaku, aku akan tutup mulut, tetapi jika diberikan kepada yang selainnya, aku akan bicara. Orang seperti saya tak selayaknya dikesampingkan dalam urusan ini. Aku bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ini.”

Aku berkata ,”Tidak, demi Allah aku tidak akan memberitahukan kepadamu satu hurufpun dari isi surat yang telah  dipercayakan amirul mukminin kepadaku.” Dia pergi dengan mengepalkan tangannya saraya menggerutu: “Kepada siapa lagi dia menyerahkan jabatan jika aku disingkirkan? Mungkinkah khalifah ini akan lepas dari tangan anak-anak Abdul Malik? Demi Allah akulah yang paling utama di antara anak-anak Abdul Malik!”

Kemudian aku masuk untuk menjumpai amirul mukminin Sulaiman bin Abdul Malik. Aku perhatikan beliau semakin bertambah parah dan mendekati sakaratul maut. Melihat kegelisahannya, aku menghadapkan ke kiblat sementara beliau berkata dengan berat ,”Belum tiba saatnya wahai Raja’… “Aku mengulanginya lagi dan ketika untuk yang ketiga kalinya beliau berkata :”Sekarang jika engkau hendak melakukan sesuatu, lakukanlah wahai Raja’… Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhhadu anna Muhammadan Rasulullah.” Kupalingkan dia baru bisa tidur ke arah kiblat dan tak lama kemudian beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Aku pejamkan kedua matanya, aku tutup tubuhnya dengan kain, lalu kututup pintu ruangan rapat-rapat. Pada saat itu utusan istri khalifah ingin menengoknya, aku menghalangi pintu masuk sambil berkata ,”Lihatlah dia bisa tidur setelah gelisah semalam suntuk. Karena itu biarkanlah dulu dia dengan ketenangannya.”

Ketika utusan istri Sulaiman Bin Abdul Malik menyampaikna alasanku diterima dengan baik oleh istri khalifah. Dia yakin kalau suaminya memang sedang tidur. Aku mengunci pintu dan menempatkan seorang penjaga  yang kupercaya sambil berkata ,”Jangan ijinkan seorangpun masuk hingga aku kembali nanti.”

Kemudian aku pergi untuk menemui manusia. Ketika itu mereka bertanya :”Bagaimana keadaan amirul mukminin?” Aku menjawab:”Belum pernah beliau setenang ini semenjak sakitnya.” Alhamdulillah, kata mereka.

Setelah itu aku meminta agar Ka’ab bin Hamiz mengumpulkkan semua keluarga khalifah di masjid Dabik. Setelah semuanya hadir aku berkata ,”Berbai’atlah kalian kepada orang yang tercantum namanya dalam surat ini.” Mereka berkata ,”Kami sudah berbai’at kemarin, mengapa harus berbai’at lagi?” Aku berkata ,”Ini adalah perintah amirul mukminin. Kalian harus mentaati perintahnya untuk membai’at orang yang tersebut dalam surat ini.”

Satu persatu merekapun berbai’at.  Setelah kulihat segalanya berjalan dengan lancar, baru aku katakana :”Sesungguhnya amirul mukminin telah wafat, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”

Aku membaca surat wasiat amirul mukminin dan ketika kusebutkan nama Umar bin Abdul Aziz, spontan Hisyam bin Abdul Malik berteriak ,”Aku tidak akan membai’at dia selamanya!” Aku berkata, “Kalau begitu-demi Allah-aku akan memenggal lehermu , bersegeralah engkau bai’at dia.” Akhirnya sambil menyeret kedua kakinya dia berjalan menuju Umar bin Abdul Aziz, lalu berkata ,” inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…(yakni dia sesalkan mengapa khalifah jatuh ke tangan Umar Bin Abdul Malik dan bukan ke tangan salah satu putra Abdul Malik). Umarpun menjawab :”inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (yakni beliau menyesal mengapa beliau harus mengemban tugas khalifah)

Itulah bai’at yang dengannya Allah memperbaharui keIslaman dan meninggikan panji-panjinya.

Sungguh beruntung khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dan selamatlah jalannya. Dengan pengangkatannya atas Umar bin Abdul Aziz berarti beliau telah menyelamatkan diri dari tanggung jawab di hadapan Allah. Selamatlah menteri yang tulus Raja’bin Haiwah yang telah merealisasikan nasihat bagi Allah, RasulNya dan imam-imam kaum muslimin. Semoga Allah membalas teman akrab yang shalih dengan balasan yang baik dan menggantinya dengan pahala. Dengan kecerdasannya mampu menunjukkan jalan terbaik bagi para penguasa.

*** *** *** ***

Ringkasan dari buku terjemah “Shuwaru min Hayati at-Tabi’in” karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya (Mereka adalah Tabi’in, hlm 141-150)

Penerbit At-Tibyan

Pos ini dipublikasikan di Kisah Teladan dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s