Komunikasi Yang Salah Menjadikan Anak Tidak Cerdas

Banyak orang tua dan pendidik berlaku buruk terhadap anak atau anak didik mereka, seperti dengan menjadikan penghinaan sebagai perangkat utama dalam mendidik, menganggap anak sebagai makhluk pra manusia, atau menganggap mereka  bukanlah makhluk cerdas yang dapat berpikir.

Seorang ibu tampaknya putus asa sambil memandangi anaknya yang tidak bisa diatur. Sedemikian besar keputusasaan yang terpancar dari wajahnya, seolah-olah ia adalah ibu dari seorang durjana yang sama sekali tidak berguna dan tidak memiliki masa depan. Sementara itu, si anak rupanya juga merasakan keputusasaan yang mendera ibunya dengan segala sesak yang menindih jiwa sang bunda. Lambat laun, si anak juga ikut merasakan bahwa keberadaan dirinya di dunia hanyalah sebuah kesia-siaan belaka! Si anak lalu menganggap dirinya tidak akan pernah sanggup berbuat baik untuk ibunya yang menjadi pujaan hatinya dan tidak akan pernah mampu merebut hati sang bunda. Si anak mungkin terus berusaha sekuat tenaga, tetapi sang ibu tetap tampak putus asa seperti seseorang yang telah terlanjur tenggelam di dasar sumur nan dalam yang takkan bias diselamatkan!

Dengan kepolosan dan daya hayalnya yang tinggi, anak pasti tidak akan bisa mengetahui posisi dirinya di mata sang bunda, sementara kedua mata sang bunda terus berkata, “Engkau adalah anak tak berguna, dan engkau tidak akan dapat memperbaiki kelakukanmu!”

Sadarilah , bahwa ungkapan air muka seperti itu adalah derita terberat yang mengalir dari hati seorang ibu dan menjadi pesan paling pelik yang diterima anak dari ibunya.

Ketika itu terjadi, si anak menjadi semakin keras kepala dan menolak untuk patuh kepada orang tuanya. Sementara sang ibu mulai menggunakan berbagai macam cara untuk menaklukan anaknya. Sang ibu lalu berupaya memaksa anaknya berperilaku baik dengan menggunakan cara yang buruk, semisa memarahi si anak, menghinanya atau menghardiknya. Si anak pun melakukan perlaawanan dengan berprilaku semakin keras dan tak berperasaan.

Jika itu yang terjadi maka sadarilah saudaraku, bahwa itulah “lingkaran setan” yang kita ciptakan sendiri. Pemikiran yang salah tentang anak itu merasuk ke jiwa kita, yang kemudian juga merasuk ke jiwa anak-anak kita sehingga membentuk prilaku dan karakternya, lalu memicu timbulnya pemikiran yang semakin salah tentang anak kita. Dan demikianlah daur kesalahan itu terus berputar.

Kalau sudah begitu, kapankah kiranya kita dapat keluar dari lingkaran setan itu?

Cara Keluar Dari Lingkaran Setan

Kesulitan yang terjadi pada kondisi seperti ini mungkin terjadi karena setelah anak berkali-kali menghadapi hinaan dan hujatan, secara psikis ia akan mulai mempercayai semua penghinaan itu. Dengan demikian hal itu akan membuatnya tidak percaya diri dan takut melakukan apapun lantaran terlalu khawatir akan gagal.

Bagaimana mungkin anak tidak akan bersikap seperti itu jika setiap hari ia mendengar kalimat-kalimat kasar semisal berikut:

  • “engkau anak tolol!”
  • “engkau seperti keledai!”
  • “diam, bodoh!”
  • “ayah/ibu benar-benar malu punya anak seperti engkau!”
  • “engkau tak kan pernah berhasil!”
  • “jangan berkelakuan seperti binatang!”
  • “apa katamu? Otakmu emang seperti udang!”
  • “apa yang kau bilang tadi? Begitu saja dari dulu ucapanmu!”

Ungkapan-ungkapan buruk itu dan yang lainnya membuat anak tidak akan pernah dapat bergaul secara normal dengan orang-orang di sekelilingnya dan akan membuat anak semakin merasa tidak dianggap sebagi manusia. Ketika anak sudah kehilangan rasa percaya diri, perasaan itu akan merasuki jiwanya. Seiring dengan itu, muncul pula perasaan tidak rela pada dirinya.

Semua itu bisa terjadi karena seorang anak baik laki-laki maupun perempuan selalu terpengaruh oleh ucapan dan pandangan orang tuanya, sebagaimana ia juga membangun pola pikir mengikuti apa yang diucapkan orang tuanya.

Jadi, jika seorang anak mendapatkan kepercayaan dari orang tuanya, selalu mendengar ucapan yang mengesankan bahwa dirinya adalah anak yang baik, penuh semangat, rajin, dapat dipercaya, apalagi jika semua itu didukung dengan tindakan orang tua yang bersedia menyerahkan pekerjaan penting tertentu kepada anak sesuai dengan kemampuannya, pastilah si anak berusaha mewujudkan semua sifat baik itu dalam dirinya serta menjadikan semua sifat baik itu menjadi miliknya dengan sekuat kemampuannya.

Setiap anak memang selalu bertingkah laku sesuai dengan sikap orang tuanya kepada mereka. Jika orang tua sering menyatakan bahwa anaknya nakal maka si anak pasti menjalani hidupnya sebagai anak nakal. Jika orang tua sering mengatakan bahwa anaknya adalah sosok anak yang tahu cara bermain yang baik maka si anak juga pasti akan menjalani hidupnya sebagai anak yang baik.

Mari kita ambil contoh

Orang tua berkata kepada anaknya, “ ayah/ibu sama sekali tidak habis piker, kenapa kamarmu bisa berantakan seperti ini? Apakah engkau tidak malu terhadap dirimu sendiri? Kapan terakhir kau rapikan tempat tidurmu? Engkau pasti tidak akan pernah dapat berubah!”

Pertanyaannya

Apa yang dipahami si anak dari ucapan orang tuanya itu? Si anak akan menganggap bahwa dirinya sama sekali tidak berguna dan akan terus seperti itu di sepanjang hidupnya. Selain itu, si anak juga akan menganggap orang tuannya sudah putus asa mengharapkan kebaikan darinya.

Mari kita ambil contoh lain …

Ketika orang tua melihat kamar anaknya berantakan, ia berkata, “Nak, engkau pasti menyadari bahwa engkau bukanlah anak yang suka punya kamar yang berantakan seperti ini. Ayah/ibu juga tahu betul bahwa engkau adalah seorang anak yang rapi. Oleh karena itu, ayah/ibu yakin engkau pasti bisa membereskan kamarmu ini. Ya bukan?”

Pertanyaannya …

Apa yang dipahami si anak dari ucapan orang tuanya itu?

Si anak akan menganggap orang tuannya memiliki harapan padanya serta mempercayainya secara penuh bahwa ia akan mampu membereskan semua urusannya dengan baik.

Dari contoh ini, kita dapat mengetahui bahwa sangatlah penting bagi kita untuk mewujudkan “motivasi positif” untuk anak-anak kita dan juga harapan positif atas perbaikan perilaku mereka. Hal itu perlu dilakukan karena tindakan orang tua atau pendidik yang menunjukkan adanya harapan positif kepada anak akan member dampak positif bagi perkembangan jiwa mereka. Bahkan, berbagai penelititan ilmiah yang dilakukan menyatakan bahwa hal itu berpengaruh untuk memotivasi anak untuk memperbaiki diri.

Beberapa contoh ucapan yang menunjukkan harapan positif adalah sebagai berikut:

 

  • seperti yang sudah ayah/ibu tahu tentang dirimu, ayah/ibu yakin engkau pasti dapat berprestasi dengan baik”
  • “engkau pasti bisa menyelesaikan urusan ini jika engkau mau berusaha”
  • “ayah/ibu tak pernah meragukan kemampuanmu.”
  • “engkau sudah berusaha sekuat tenaga, nak. Insyaallah usaha kerasmu itu akan membuahkan hasil yang memuaskan”
  • “ayah/ibu melihat engkau sudah berusaha dengan sungguh-sungguh menyelesaikan tugas ini”
  • “ini adalah tantangan bagimu, tetapi ayah/ibu yakin engkau pasti bisa menghadapinya.”

Semua kalimat barusan jelas berbeda dengan berbagai ungkapan negatif yang dapat merontokkan rasa percaya diri anak.

Sebagaimana telah diuraikan, anggapan anak terhadap dirinya sendiri sebenarnya muncul dari cara Anda berinteraksi dengannya. Jika Anda membuat dirinya merasa bahwa ia adalah anak yang baik dan Anda begitu mencintainya, pastilah ia membangun pikiran bawah sadarnya bahwa ia seorang anak yang baik dan keberadaannya di dunia ini masih memiliki arti.

Sebaliknya, jika Anda tidak sabar dalam menghadapinya sehingga membuat ia merasa sebagai anak nakal, juga bila Anda sering memaki serta memarahinya, pastilah anak Anda membangun pikiran bawah sadarnya bahwa dirinya memang anak nakal dan akan selalu berpikiran negative terhadap dirinya sendiri. Ujung dari semua keburukan itu hanya satu dari dua kemungkinan: ia akan menjadi anak minder dan putus asa, atau ia akan menjadi anak yang nakal dan pembangkang.

Sadarilah bahwa anak mempercayai penuh apa yang Anda sampaikan kepada mereka. Selain itu, mereka juga bertingkah laku sesuai dengan motivasi yang Anda berikan kepada mereka. Jika Anda ingin mendorong pembentukan sifat-sifat positif anak, maka Anda harus sesering mungkin menunjukkan sifat positif di depan mereka. Berilah pujian atas perilaku baik yang mereka lakukan dan berilah motivasi positif kepada anak-anak agar mereka dapat belajar membentuk kepribadian baik.

Coba sekarang Anda renungkan ucapan yang sering kita dengar dari anak-anak, “Ketika saya berbuat buruk, semua orang memarahiku, tetapi ketika saya berbuat baik, tak seorang pun memujiku.”

Bukankah ungkapan seperti ini akan mendorong Anda untuk berusaha menghindari kritik negatif terhadap anak Anda serta kebiasaan menunjuk kesalahan anak Anda dengan cara yang buruk yang jauh dari sifat adil dan bijaksana?

Bukankah ungkapan motivasi dan menunjukkan penghargaan terhadap martabat anak itu lebih bisa mengubah perilaku buruk anak menjadi lebih baik?

Semoga Berfaedah…^^

Oleh :DR. Abdurrahim al-Basyir, M.Pd

Dari Majalah al-Mawaddah Vol. 51 (hlm.59-61)

Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Komunikasi Yang Salah Menjadikan Anak Tidak Cerdas

  1. Devi Saputra berkata:

    nice artikel… terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s