Prinsip-Prinsip Dasar Agama Islam (Muqodimah)

Hasil Corat-coret ^^

Dari Rekaman Kajian Kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad bin Hanbal

Disampaikan Oleh Ustadz Abdullah Zaen
Gambaran umum kitab ini bahwa kitab ini kitab inti yang menjadi rujukan utama aqidah ahlus sunnah wal jamaah, memaparkan prinsip-prinsip dasar ahlus sunnah dan barangsiapa mengetahui prinsip-prinsip ini dan mengamalkannya maka Insya Allah dia disebut ahlus sunnah wal jamaah.
Imam Abu Ya’la al-Hanbali berkata : Seandainya ada seorang melakukan perjalanan ke negeri Cina demi bertujuan untuk mendapatkan kitab ini niscaya perjalanan itu dianggap pendek (tidak jauh).
Kitab ini berjudul Ushul as-Sunnah. Penjabarannya, ushul adalah prinsip-prinsip dasar. Sedangkan as-Sunnah di sini adalah agama Islam atau aqidah. Maka, ushulus sunnah bermakna prinsip-prinsip dasar agama Islam atau aqidah. Mengapa sunnah diistilahkan sebagai agama Islam atau aqidah? Karena sunnah di sini penafsiran oleh ulama aqidah atau ulama tauhid bukan sunnah dalam ilmu fiqih atau dalam ilmu hadits. As-Sunnah untuk makna agama Islam secara menyeluruh. Imam al-Barbahari pernah berkata : “Ketahuilah bahwasanya sunnah adalah Islam. Islam adalah sunnah”
Imam Ibnu Rajab rahimahullah pernah berkata bahwa as-sunnah maknanya aqidah yang bersih dari syubhat-syubhat, aqidah yang bersih (aqidah ahlus sunnah wal jamaah).
Ada beberapa nama dalam kitab ini :
      1. Imam Ahmad bin Hanbal sebagai penulis
      2. Abdus bin Malik al-Athar(murid Imam Ahmad bin Hanbal) yang meriwayatkan langsung dari Imam Ahmad bin Hanbal.
      3. Al Walid bin Muhammad sebagai pensyarah sekaligus pentahqiq.
      4. Muhammad ‘Ied al Abbas(murid Syaikh al-Albani) memberi kata pengantar dan memberi catatan kaki.
Imam Ahmad hidup abad ke-2 sampai abad ke-3. Karya beliau ini silsilah sanadnya sampai ke abad 6 dan sampai sekarang, kitab otentik dengan riwayatnya yang jelas dari ulama-ulama besar sampai pada murid beliau. Perlu diketahui para ulama sangat berhati-hati dalam berkata dan menulis sampai ke buku-bukunya.
Prinsip-prinsip dasar aqidah menurut kami (kami yang dimaksud ahlus sunnah secara keseluruhan bukan hanya Imam Ahmad saja) antaranya:
1. Berpegang (at tamassuk) dengan apa yang dipahami para sahabat Nabi dan meneladani mereka.
-Di sini Imam Ahmad sengaja menggunakan kata berpegang dengan apa yang dipahami para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan dengan kata mengamalkan (al ‘amalu). Jika Imam Ahmad menggunakan kata mengamalkan niscaya umat tidak mampu mengamalkan apa yang dilakukan para sahabat karena praktik beragama para sahabat sangat tinggi.
Contoh:
@ Masalah khusyuk dalam shalat. Pernah suatu ketika Ali bin Abi Thalib tertancap panah dan meminta agar panah tersebut dicabut ketika beliau radhiallahu anhu sedang khusyuk dalam shalat.
@ Abu Dujana bersedia menjadi tameng sabetan pedang tapi tetap kokoh tidak bergerak untuk melindungi Rasullullah, …dsb.
Bicara soal mempraktikkan amalan para sahabat kita tidak mampu melakukannya. Tapi dengan kata berpegang (dengan apa yang dipahami para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) Insya Allah dapat dilakukan oleh ummat. Inilah kejelian dan kecermatan Imam Ahmad dalam berkata. Pelajaran berharga buat kita.
-Kecermatan lainnya, Imam Ahmad mengatakan berpegang dengan apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengapa tidak berpegang dengan al Qur’an dan Sunnah? Jawabannya:
 a. karena prinsip berpegang dengan kitab dan sunnah itu disepakati oleh semua pihak (semua orang) sampaipun pada ahlul bid’ah. Imam Ahmad mengatakan berpegang dengan apa yang dipahami para sahabat Nabi karena prinsip ini tidak diterima oleh ahlul bid’ah. Inilah yang membedakan ahlus sunnah dan ahlul bid’ah.
 b. berpegang dengan apa yang dipahami oleh para sahabat Nabi pada hakekatnya mencakup prinsip berpegang al-Qur’an dan sunnah karena para sahabat tidak akan keluar dari al-Qur’an dan sunnah.
2. Meneladani para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apa beda berpegang dengan meneladani?
Imam Ahmad membedakan kata berpegang dengan meneladan.  Karena berpegang lebih cenderung pada berpegang dengan pemahaman dan ilmu, sedangkan meneladani maknanya meneladani praktik para sahabat.
Dalil yang menunjukkan kewajiban pemahaman sahabat Nabi diantaranya:
– Dalil dari al-Quran
1. Surat al-Fatihah ayat :6-7
Sisi argumen dari ayat 6 :”Tunjukilah kami pada jalan yang lurus.” Jalan yang lurus  ini berlandaskan kitab dan sunnah. Pada ayat ke-7 :” Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka…dst ” Jalan tersebut adalah jalan para sahabat dan generasi salafush shalih.
2. Surat at Taubah ayat:100
” Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka jannah-jannah yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
Ada 3 golongan yang Allah sebutkan dalam ayat di atas yaitu orang-orang Muhajirin, orang-orang Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Mereka semua dijamin surga oleh Allah subhanahu wata’ala.
– Dalil dari Hadits
1. Dari  ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh akan terjadi pada ummatku, apa yang telah terjadi pada ummat bani Israil sedikit demi sedikit, sehingga jika ada di antara mereka (Bani Israil) yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, maka niscaya akan ada pada ummatku yang mengerjakan itu. Dan sesungguhnya bani Israil berpecah menjadi tujuh puluh dua millah, semuanya di Neraka kecuali satu millah saja dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga millah, yang semuanya di Neraka kecuali satu millah.’ (para Shahabat) bertanya, ‘Siapa mereka wahai Rasulullah?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Apa yang aku dan para Shahabatku berada di atasnya.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2641)
Kedudukan para sahabat sangat mulia karena pemahaman mereka yang diperintahkan oleh Allah serta Nabi-Nya agar kita berpegang dengan pemahaman tersebut.
2. Hadits Imam Bukhari dan Muslim:
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (Mutafaqun ‘alaih)
– Dari sini kebaikan apa yang dipuji Nabi dari para sahabat? Ini bisa dilihat dari sisi pemahaman al-Qur’an dan al Hadits Nabi karena pemahaman para sahabat sudah direkomendasikan oleh Nabi, berdasarkan alasan:
1. para sahabat berguru langsung pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. orang-orang yang bertaqwa pada Allah, dan memiliki kejernihan otaknya.
3. orang-orang Arab asli yang lebih memahami hadits Nabi.
3. Meninggalkan Bid’ah
– Perkataan Imam Ahmad untuk meninggalkan bid’ah merupakan peringatan dari keburukan. Di awal pembahasan beliau sudah membicarakan tentang kebaikan, selanjutnya mengingatkan akan keburukan. Kita harus menggabungkan konsep ini sesuai apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadits Al ‘Irbadh bin Sariyah berkata, ‘Rasulullah  memberikan nasehat kepada kami dengan mau’idzah yang sangat bagus, hingga air mata berlinang, dan hati menjadi bergetar karena rasa takut. Maka seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, kami merasa seakan-akan ini adalah nasihat terakhir, apa yang Anda wasiatkan kepada kami?” Beliau menjawab:
“Aku wasiatkan kepada kalian taqwa kepada Allah dan wajib atas kalian mendengar dan taat (kepada pemimpin), walaupun yang memimpin kalian seorang hamba sahaya Habasyi. Sesungguhnya siapa yang masih hidup di antara kalian setelahku, maka akan melihat perselisihan sangat banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, peganglah dia, dan gigitlah dengan gigi geraham . Dan berhati-hatilah dengan perkara baru, karena setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Imam Abu Dawud)
Perhatikan apa yang dinasihatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :
1. berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin
2. meninggalkan bid’ah.
Apa itu bid’ah? Banyak definisi bid’ah dari kalangan para ulama, dengan redaksi berbeda-beda tapi muaranya hanya satu. Definisi bid’ah paling pas yaitu dari ulama Imam Asy Syatibi (wafat tahun 790 H) yang mengatakan bahwa bid’ah adalah tata cara baru dalam beragama yang menyerupai ajaran syariat, bertujuan untuk berlebihan dalam beribadah kepada Allah. Dikatakan baru karena tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Penyerupaan diantaranya:
@ mengharuskan diri untuk mengikuti tata cara tertentu
@ tujuan melakukannya untuk berlebihan memuji Allah
Sisi kelam bid’ah, antara lain:
1. Menciptakan bid’ah beresiko menuduh Nabi mengkhianati amanat.
Hubungannya jelas. Disebutkan oleh Imam Malik pernah berkata : “Barangsiapa melakukan bid’ah maka sesungguhnya dia telah menuduh Nabi mengkhianati risalah. Allah telah berfirman :
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam itu jadi agama bagimu,”(Al-Maidah:3)
Siapa yang telah membawa ajaran tersebut, dialah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. Menghidupkan bid’ah berakibat matinya sunnah.
Hal ini disampaikan oleh ulama Hasan bin ‘Athiyah pernah berkata :”Tidaklah suatu kaum menciptakan bid’ah di dalam agama mereka melainkan Allah akan mencabut sunnah yang semisalnya dari dada mereka. Allah tidak akan mengembalikan sunnah itu kepada mereka sampai datangnya hari kiamat.”
Contoh-contoh uraian tersebut banyak terdapat di sekeliling kita. Semisal, acara syukuran kematian(?), membaca surat Yassin pada hari Jum’at telah memusnahkan sunnah Nabi untuk membaca surat al- Kahfi.
3. Bid’ah mengantarkan pada pertumpahan darah.
Imam Abu Qilabah (wafat tahun 104 H) pernah berkata: “Tidaklah setiap seorang melakukan bid’ah melainkan dia akan menghalalkan pedang (untuk membunuh,menumpahkan darah).
Bid’ah dari pemikiran Khawarij yaitu bermudah-mudahan dalam menjatuhkan vonis kafir.
4. Bid’ah lebih dicintai iblis dari pada maksiat.
Menurut Sufyan Ats Tsauri bahwa :” Bid’ah itu lebih dicintai iblis daripada maksiat.” Mengapa? Karena pelaku maksiat mudah untuk ditaubati, sedangkan pelaku bid’ah susah untuk bertaubat. Pelaku bid’ah meyakini bahwa ibadahnya adalah ibadah yang baik.
*** ***
Semoga Berfaedah.
Pos ini dipublikasikan di aqidah dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s