Ketika Istri Harus Berkarier

Wanita karier. Sebuah sebutan keren dan mentereng yang membuat sebagian wanita terpukau untuk ikut-ikutan menjadi seperti mereka. Wanita yang bisa mandiri, tanpa harus bergantung kepada suami maupun walinya dalam nafkah, wanita yang bisa menatap masa depan lebih cerah, wanita yang bisa memberikan arti bagi dunia. Begitu mungkin anggapan sebagian orang. Namun, benarkah itu semua?

Jangan-jangan itu semua hanya fatamorgana yang karena banyaknya kabut syubhat dan tebalnya syahwat maka jarang yang bisa membedakan antaranya dengan air segar sungguhan. Jangan-jangan hanya karena trend maka banyaknya yang berbuat bukan jaminan kebenaran.

Sungguh Allah Ta’ala berfirman:

“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (QS. al-An’am [6]:116)

Dari sini saya mengajak segenap wanita mukminah, khususnya para istri, yang meyakini Allah sebagai Rabbnya, Muhammad sebagai panutannya, al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedomannya, untuk merenungi kembali hukum permasalahan ini dengan kaidah yang jelas, yaitu 2 wahyu Ilahi: al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman para ulama kita. Wallahul Muwaffiq.

Rumahmu Adalah Surga Bagimu

Ketahuilah wahai saudariku muslimah, pada dasarnya tempatmu adalah di rumahmu yang merupakan istana duniamu. Karenanya, janganlah engkau keluar kecuali bila ada hajat syar’i yang mengharuskan engkau keluar, maka penuhi dan taatilah aturan syar’i yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Wanita Karier Dalam Tinjauan Syar’i

Berangkat dari hal di atas, pada dasarnya tugas seorang istri adalah mengurusi rumah tangga suaminya, sehingga dia harus tetap di dalam rumahnya kecuali bila ada keperluan yang mengharuskan keluar.

Atas dasar itu, maka hukum istri berkarier bisa dibagi menjadi dua:

1. Kariernya di Luar Rumah

Pada dasarnya hukum istri berkarier di luar rumah adalah terlarang. Sebab, dengan bekerja di luar rumah, maka akan banyak kewajibannya yang harus ditinggalkan, misalnya melayani keperluan suami, mengurusi dan mendidik anak serta hal lainnya yang menjadi tugas dan kewajiban seorang istri dan ibu. Padahal pekerjaan tersebut sangat melelahkan yang membutuhkan perhatian khusus.

a. Kapan Istri Boleh Berkarier Di Luar Rumah

Namun, kalau memang ada sesuatu yang sangat mendesak sehingga seorang istri harus berkarier di luar rumah, maka hal ini diperbolehkan. Tapi harus dipahami bahwa sesuatu yang mendesak ini harus disesuaikan dengan kebutuhannya, tidak boleh berlebihan, sebagaimana sebuah kaidah fiqhiyyahyang masyhur.

Kebutuhan yang mendesak ini misalnya:

1. Rumah tangga memerlukan kebutuhan pokok yang mengharuskan wanita bekerja, misalnya karena suami atau orang tuanya meninggal dunia, atau keluarganya sudah tidak bisa memberi nafkah karena sakit atau lainnya, sementara negara tidak memberikan jaminan pada keluarga semacam mereka.

Lihatlah kisah yang difirmankan Allah dalam surat al-Qoshosh 23,24:

Dan tatkala ia(Musa) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya).Musa berkata:”Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita menjawab:”Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdo’a: Ya Rabbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (QS.Al-Qashash:23-24)

Perhatikanlah perkataan kedua wanita pada ayat di atas: “sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Ini menunjukkan bahwa keduanya melakukan perbuatan tersebut karena terpaksa, disebabkan orang tuanya sudah lanjut dan tidak bisa melaksanakan tugas tersebut. (Tafsir al-Alusi 20/59)

2. Tenaga wanita tersebut dibutuhkan oleh masyarakat, dan pekerjaan tersebut tidak bisa dilakukan oleh laki-laki. Menunjukkan akan hal ini bahwa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ada para wanita yang bertugas membantu kelahiran, semacam dukun bayi atau bidan pada saat ini. Juga saat itu ada wanita yang mengkhitan anak-anak wanita. Dan yang zhahir(tampak) bahwa pekerjaan ini mereka lakukan di luar rumah. (al-Mufashshol 4/273)

b. Syarat Istri Berkarier Di Luar Rumah

Apabila ada keperluan bagi seseorang istri untuk bekerja di luar rumah, maka dia harus memenuhi beberapa ketentuan syar’i agar kariernya tidak menjadi pekerjaan yang haram. Syarat-syarat itu adalah:

1. Memenuhi adab keluarnya wanita dari rumahnya, baik dalam pakaian atau yang lainnya.

2. Mendapat izin dari suami atau walinya. Hal ini karena suami mempunyai hak terhadap istrinya untuk tidak memperbolehkannya keluar untuk bekerja. Bagaimana tidak, untuk pergi shalat berjama’ah ke mesjid saja harus minta izin terlebih dahulu kepada suaminya.

3. Dalam pekerjaan tsb tidak ada kholwat(berduaan) dan ikhtilath(bercampur baur)  antara laki-laki dan wanita bukan mahram.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan apabila kalian meminta pada mereka sebuah keperluan, maka mintalah dari balik hijab.” (QS. Al Ahzab : 53)

Dan juga hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

4. Tidak menimbulkan fitnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi bani Isro’il adalah wanita.” (HR. Ahmad 11112 dengan sanad yang shahih)

5. Tetap bisa mengerjakan kewajibannya sebagai ibu dan istri bagi keluarganya, karena itulah kewajibannya yang asasi.

6. Wanita bisa meyakinkan dirinya, bahwa setelah berkarier nanti, ia tidak akan mengubah statusnya sebagai istri yang seharusnya taat dan berbakti kepada suaminya. Jangan sampai merasa sombong dan pongah di hadapan suami karena merasa sudah bisa mandiri.

Melihat beberapa syarat di atas, sepertinya sulit kita temukan karier istri yang bisa memenuhi ketentuan tsb pada zaman sekarang. Kalaupun ada sangat sedikit sekali. Yang banyak kita saksikan saat ini, setiap karier wanita baik di kantor, pabrik, sales, atau lainnya, penuh dengan ikhtilath, pakaian yang tidak syar’i dan banyak menimbulkan fitnah.

2. Karier Istri di Dalam Rumah

Adapun kalau karier wanita itu dikerjakan di dalam rumahnya sendiri, seperti menjahit atau usaha lainnya yang bisa dikerjakan di rumah, yang akan terbebas dari khalwat, ikhtilath, fitnah, atau lainnya; maka hukum asalnya adalah boleh, catatan pekerjaan itu tidak membuatnya meninggalkan kewajibannya asasinya, yaitu menunaikan hak suami dan anak-anaknya. (al- Mufashoshol 4/275)

BAHAYA KARIER BAGI WANITA DAN MASYARAKAT

Semua perkara yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya pasti mengandung hikmah yang agung, begitu pula segala yang dilarangNya pasti mengandung bahaya yang sangat besar, hanya terkadang banyak orang yang tidak mengetahuinya.

Berkata Imam Abdul Aziz bin Baz rahimahullah: “Sesungguhnya propaganda berupa terjunnya wanita dalam lapangan pekerjaan yang menyebabkan banyaknya ikhtilath, baik secara langsung ataupun tidak, dengan dalih bahwa ini adalah tuntunan hidup modern  adalah sesuatu yang sangat membahayakan yang akan menimbulkan efek yang sangat fatal sekali, selain bertentangan dengan sejumlah nash-nash syar’i yang memerintahkan wanita untuk tetap tinggal di rumahnya dan mengerjakan pekerjaan khusus baginya.” (ats-Tsimar al-Yani’ah oleh Syaikhal-Jarullah hlm. 322)

Di antara dampak negatif itu adalah:

1. Pengaruhnya terhadap harga diri dan kepribadian wanita.

Banyak pekerjaan saat ini yang apabila diterjuni oleh kaum wanita maka akan mengeluarkannya dari kodrat kewanitaanya, menghilangkan rasa malunya dan mencabutnya dari kefeminimannya.

2. Pengaruhnya pada anak. Pengaruh negatif bekerjanya istri di luar rumah bgi anak adalah:

a. Anak kurang menerima kasih sayang dan belaian lembut dari sang ibu, padahal anak sangat membutuhkannya untuk pengembangan kejiwaannya.

b. Kebanyakan wanita karier tidak bisa menyusui anaknya secara sempurna, yang mana ini juga berbahaya bagi si anak.

c. Membiarkan anak di rumah tanpa ada yang mengawasi atau hanya diawasi oleh babysitter akan berakibat buruk.

3. Pengaruhnya pada hak suami. Seorang istri yang pagi pergi bekerja lalu sore pulang, maka ketika sampai di rumah, yang tersisa hanyalah waktu melepas lelah. Tatkala suaminya pulang dari tempat kerja maka ia tidak akan bisa memenuhi tugasnya sebagai seorang istri. Jarang atau bahkan tidak ada wanita yang mampu memenuhi tugas tersebut sekaligus.

4. Pengaruhnya pada masyarakat dan perekonomian  nasional. Masuknya wanita dalam lapangan pekerjaan banyak mengambil bagian laki-laki yang seharusnya bisa mendapatkan pekerjaan, namun terpaksa tidak menemukannya karena sudah diambil alih oleh kaum wanita. Hal ini akan meningkatkan jumlah pengangguran yang akan berakibat pada tindak kriminalitas. (Fatwa Syaikh bin Baz dalam tafsir ats-Tsimaral-Yani’ah hlm.321-322, Ekonomi Rumah Tangga DR. Husein Syahatah hlm. 153-163, Mas’uliyatul al-Muslimah Syaikh Jarullah hlm. 80)

PENUTUP

Di penghujung tulisan, saya nukil penutup fatwa Syaikh bin Baz tentang wanita karier: “Kesimpulannya, menetapnya wanita di rumah untuk mengerjakan tugas kewanitaannya setelah mengerjakan kewajibannya kepada Allah merupakan suatu hal yang sesuai dengan fitrah dan kodratnya. Hal ini akan menyebabkan kebaikan baik bagi pribadi sendiri, masyarakat maupun pada generasi yang akan datang. Dan kalau masih mempunyai keluangan waktu, maka bisa digunakan untuk bekerja yang sesuai dengan kodrat kewanitaan seperti mengajar wanita, mengobati dan merawat mereka serta pekerjaan lain yang semisalnya.

Ini semua sudah cukup menyibukkan bagi seorang wanita dan akan bisa membantu kaum laki-laki dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Jangan lupa peran ummahatul mukminin yang mana mereka mengajarkan kebaikan pada umat ini namun tetap disertai dengan hijab dan tidak bercampur dengan laki-laki. Hanya kepada Allahlah kita memohon semoga Dia menunjukkan semuanya untuk bisa menunaikantugas dan kewajibannya masing-masing. Dan semoga Allah menjaga semunaya dari fitnah dari segala fitnah dan tipu daya setan.”

Wallahu a’lam bish-showab.^^

*** *** ***

Majalah al-Mawaddah Edisi Khusus Tahun Ke-3

Oleh : Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf

Pos ini dipublikasikan di muslimah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s